26 Jun 2013

[2Min] Time Out /Yaoi/2 of 4

Cast : Lee Taemin, Choi Minho, (Lee) Choi Jinki, Kim Kibum, Tiffanny
Genre : School life, fluff, romance


NO PLAGIARISM!
NO BASH!
 [shared-writting by: http://suunsanniiew.wordpress.com ]
[re-shared by: this blog ^^]
Original Story By : Akino Yoko
Edit by : Kei Love Taemin
Credit Pic by: Page Boy
.
.
.
Author POV
Hari ini di kelas Taemin dan Minho kedatangan murid baru. Namanya Tiffanny. Ketika yeoja itu berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan diri, semua anak serentak menahan napas melihat wajah cantiknya. Yah, Tiffanny sangat cantik. Rambutnya panjang berkilau, matanya bulat, kulitnya putih dan tubuhnya langsing semampai. Kecantikan itu semakin sempurna ketika Tiffanny memulai perkenalan. Jelas kelihatan bahwa dia ramah dan mudah bergaul. Dengan ringan dia menjawab semua pertanyaan yang diajukan teman-teman. Sampai akhirnya songsaenim merasa perkenalan sudah cukup, dan meminta Tiffanny untuk duduk dibelakang. Tepat di belakang meja Taemin. Itu memang satu-satunya meja yang tidak berpenghuni.
Tiffanny tersenyum, berjalan mendekati bangku yang ditunjuk songsaenim untuknya, dan jelas ia tepat berjalan ke arah Taemin. Tiba-tiba saja Minho mengangkat tangan dan berkata, “Park Sam, kalau boleh, biar Tiffanny yang duduk dengan Taemin. Saya saja yang pindah ke belakang.”
Taemin terkejut mendengarnya. MWO YA?!!
Anak-anak tertawa lirih.
“Minho memang baik, ya.”
“Hebat. Kau memang lelaki sejati, Minho.”
Ha ha ha….Tawa anak-anak semakin keras.
Apa-apaan mereka? Lelaki sejati? Memang kalian pikir aku bukan laki-laki sejati, eoh?! –batin Taemin kesal.
Sambil terkekeh, Minho mengangkat tas dan bukunya lalu pindah ke bangku belakang.
Kau tahu…aku merasa sesuatu terasa menghilang dari hatiku…..
            Walau Minho tetap duduk di bangku belakang, tepat di belakang Taemin, tapi Taemin merasa lain. Selama beberapa bulan, setiap pagi hingga usai sekolah, dia dan Minho duduk bersebelahan. Tiba-tiba saja mata Taemin terasa panas. Ia merasa ditinggalkan, sendirian.
“Selamat tinggal, Taemin. Jangan menangis, ya. Aku masih disini, di belakangmu.”
Suara Minho yang berbisik menggoda justru semakin membuat Taemin sedih. Tetapi tentu saja ia tidak akan pernah mau memperlihatkan kesedihan itu di depan Minho.
“Eh, maaf ya. Aku membuat kalian berpisah.” Suara Tiffanny yang penuh penyesalan menyadarkan lamunan Taemin.
Ck, betapa egoisnya aku. Kalau Tiffanny duduk sendirian di belakang pasti ia akan kesepian. –pikir Taemin.
“Oh, gwenchana…” kata Taemin berusaha tersenyum. Dia melirik Minho, “Kedatanganmu malah membuatku terbebas. Bebas dari gangguannya. Dia iseng sekali.”
“Oh, ya? Tapi kelihatannya dia orang yang baik.”
“Anii. Kau belum saja mengenalnya. Kalau sudah kenal, wah…rambutmu yang panjang pasti jadi sasaran. Dia suka menjambak, kau tahu.”
“Hah?! Wah kalau begitu, besok kuikat saja.” Tiffanny pura-pura ketakutan.
Taemin dan Tiffanny tertawa berdua.
“Hei, kalian bicara apa?! Kenapa melirikku segala, eoh? Pasti si anak ayam ini bercerita yang jelek-jelek tentangku. Ya kan, anak ayam?!” hardik Minho dengan suara bass-nya.
Taemin mencibir. “Buat apa aku membicarakanmu?! Untung kau pindah ke belakang. Aku cuma minta agar Tiffanny berhai-hati padamu.”
“Jangan percaya dia, Tiffanny. Walau si anak ayam ini ketua kelas, tapi dia itu suka berbohong.”
“Minho!”
Suara songsaenim membuat Minho terdiam. “Ada yang ingin kau tanyakan? Dari tadi matamu selalu memandang Tiffanny.”
“E-e…itu…anii…” jawab Minho gugup.
Anak-anak tertawa. Park Sam juga ikut tertawa. Minho jadi salah tingkah, dan Tiffanny hanya tersenyum.
Pulang sekolah, Tiffanny mengajak Taemin untuk mampir ke apartemennya.
“Kami baru pindah tiga hari yang lalu. Aku sudah berjanji pada Mama untuk mengajak teman pertama yang kukenal berkunjung ke rumah untuk berkenalan dengannya. Dan orang itu adalah kau, Taemin. Walau kau namja, tapi aku sangat nyaman denganmu.”
Taemin tersenyum mendengarnya.
“Oya, kenapa Minho memanggilmu dengan sebutan ‘anak ayam’? Sepertinya…hanya dia yang memanggilmu begitu?”
Taemin mengangguk sambil menghela napasnya, “Minho memang suka seenaknya. Dia bilang aku ini bawel seperti anak ayam.”
Hahahaha, Tiffanny tertawa terbahak mendengarnya.
Apartemen Tiffanny termasuk apartemen kelas atas. Letaknya agak di tengah jalan besar. Ruangannya berada di lantai 3, mereka pun langsung masuk ke sana.
“Wah, disini nyaman sekali.” Ucap Taemin sambil memandang sekitar.
“Kami tidak sempat melihat-lihat apartemen lain. Begitu mendapatkan apartemen yang cukup dekat dengan sekolah, Mama langsung setuju.”
Seorang wanita mungil membukakan pintu. Sepintas wajahnya sangat mirip dengan Tiffanny.
“Annyeong haseyo.” Sapa Taemin.
“Oh, annyeong haseyo.” Jawab wanita itu.
Dengan ramah wanita itu mempersilahkan masuk.
“Mama, ini Taemin. Dia teman sebangku-ku dan juga ketua kelas.” Ucap Tiffanny saat mereka duduk di ruang tamu.
“Wah beruntung sekali Tiffanny bisa duduk dengan ketua kelas. Kalau ada kesulitan bisa langsung bertanya.”
Taemin sedikit risih mendengarnya, “Ah, tidak begitu. Justru saya sering dianggap galak oleh teman-teman. Soalnya saya suka menghardik murid-murid yang malas piket siang. Terutama anak laki-laki.”
Mama Tiffanny tertawa, “Ah, zaman belum berubah. Anak laki-laki selalu saja malas memegang sapu. Kalau ada kesempatan kabur, mereka pasti akan melakukannya.”
Taemin terkekeh, “Tapi Ahjumma, saya tidak begitu. Hehehe”
“Ah benar! Hahaha, maksud Ahjumma, kebanyakan laki-laki seperti itu. Aduuh, bukan maksudnya untuk menyindir.”
Taemin mengangguk dan tersenyum.
Tak lama kemudian Tiffanny keluar sambil membawa dua gelas jus jeruk. “Mama dulu pernah jadi ketua kelas, Taemin. Makanya Mama tahu repotnya jadi ketua kelas.”
“Oh ya?”
Di atas meja kecil tampak foto keluarga, Tiffanny kecil benar-benar sangat cantik. Tidak jauh berbeda dengan yang sekarang. Dia diapit oleh kedua orang tuanya. Papa Tiffanny berkebangsaan Perancis. Oleh karena itu, wajah Tiffanny berwajah campuran. Hidung, mata dan rambut Tiffanny seperti Papanya. Tapi mulut dan bentuk wajahnya mirip dengan Mamanya.
Mereka tinggal di Perancis selama empat tahun. Dan sekarang Papa Tiffanny ditugaskan ke Seoul, entah untuk berapa lama.
Sejak itu, Taemin dan Tiffanny bersahabat. Menurut Taemin, Tiffanny adalah teman yang menyenangkan. Tiffanny selalu tertawa, dan Taemin merasa sangat cocok dengannya. Walau mereka tetap saja seorang namja dan yeoja. Seolah perbedaan gender itu bukan merupakan penghalang berarti. Tiffanny bebas dan nyaman-nyaman saja bercerita mengenai hal pribadinya pada Taemin, begitu juga sebaliknya. Walau Taemin lebih menjadi sosok yang mendengarkan.
Tiap kali berjalan bersama Tiffanny, Taemin merasa mereka menjadi pusat perhatian. Dan itu sangat tidak nyaman. Berkali-kali orang bertanya apa mereka berpacaran? Terlebih wajah Tiffanny yang bagai magnet menyedot perhatian warga sekolah tiap kali ia berjalan. Tapi lama-kelamaan Taemin pun terbiasa, dan orang-orang pun akhirnya mengerti bahwa mereka hanya sekedar bersahabat.
“Taemin, punya plester? Tanganku tergores duri…” panggil Minho.
Taemin berbalik, dan ia melihat jari Minho yang berdarah.
Tiffanny ikut menoleh, “Ah! Darah! Aku takut melihat darah!”
Tiffanny menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Taemin segera menyuruh Minho menutup lukanya dengan plester yang ia beri. Lalu Taemin menepuk-nepuk pundak Tiffanny, menenangkannya.
“Hei, sudah. Lukanya sudah ditutup.”
Pelan-pelan Tiffanny membuka tangannya. Wajahnya tampak ketakutan.
“Hei, aku dengar orang yang takut darah itu perasaannya lembut, ya?” celetuk Minho sambil bertopang dagu. Entah ia berbicara pada siapa. Matanya kosong menatap keluar jendela.
Dan tiba-tiba dadaku terasa sesak….
“Yah, aku memang tidak tahan melihat darah.” Kata Tiffanny.
Minho melirik keduanya. Tangannya masih menopang kepalanya, “Nah, itu baru namanya yeoja sempurna. Tidak seperti yeoja jejadian galak yang mirip anak ayam seperti…hmm…siapa ya…??”
Taemin tersentak menatap Minho. Ia serasa seperti disengat lebah mendengar perkataan Minho. Dia tidak marah, hanya saja…hanya saja kenapa seolah hatinya…sakit?
“Apa…apa sebenarnya kau tidak menyukaiku? Apa itu alasanmu pindah tempat duduk, Minho?”
Minho melirik Taemin yang tengah menatapnya, “Ya, Taemin! Kalau saja kau bisa lebih lembut pasti….”
Apa Minho? Pasti….?
            “Pasti dunia kiamat! Hahahahaha!”
Errrgh! Menyebalkaaaaann!!!
“Hey, Minho, jangan begitu. Taemin itu bukan galak atau kasar, tapi dia memang harus tegas menghadapi anak-anak kelas yang dipimpinnya. Karena jadi ketua kelas itu bukan pekerjaan mudah, iya, kan Taemin?” kata Tiffanny membela.
“Aku sebenarnya lembut seperti salju yang pertama turun di musim dingin. Hanya saja…untuk menghadapi anak-anak yang suka iseng seperti bekas teman sebangkuku, aku terpaksa memegang sapu untuk memukul pantatnya.”
“Ya! Kau kira aku ini anak kecil sampai dibawakan sapu segala? Aku bukan orang iseng, tahu.” Ucap Minho membela diri. “Kalau kau membawa sapu sih memang pantas. Kau memang mirip nenek sihir! Hahaha…”
Taemin pura-pura tidak mendengar. “Oya, Tiffanny. Kau pasti senang kalau berkenalan dengan kakak-nya Minho. Orangnya ramah, tetapi tegas kalau di lapangan. Dia juga tampan.” Kata Taemin sambil mengacungkan dua jempolnya.
Minho langsung berhenti tertawa, dan menatap Taemin tajam. Taemin sadar itu tapi ia memilih pura-pura tidak tahu.
Mata Tiffanny terbelalak. “Oh ya? Kapan-kapan ajak aku melihat latihan, ya? Aku jadi penasaran, Taemiiinn (>///<)” histeris Tiffanny sambil meremas-remas tangan Taemin.
Minho masih memandang Taemin tajam, dan Taemin jadi merasa bersalah. Dengan ragu ia pun menyahut, “Ehm, boleh…”
“Kenapa kau terlihat ragu, Taemin? Tidak boleh, yaaa….” rengek Tiffanny.
“Bu-bukan begitu. Aku hanya berpikir, selama ini mereka berlatih hanya dilihat teman-teman se-klub atau mereka yang suka menonton bola. Kalau Tiffanny datang, aku khawatir mereka nanti tidak jadi berlatih. Malah lebih suka mengobrol denganmu…”
Tiffanny tertawa, “Taemin, bisa saja. Tetapi sekali-sekali aku ingin melihat latihan sepak bola. Walau aku tidak tahu tentang sepak bola, tapi aku ingin melihatnya secara langsung dari dekat. Boleh, kan?”
Akhirnya Taemin mengangguk dan tersenyum, “Boleh saja.”
“Minho juga ikut klub sepak bola, kan?” Tanya Tiffanny.
Minho hanya menjawab dengan anggukan singkat.
“Dia nanti ikut turun pada pertandingan antar sekolah. Tendangannya memang hebat, sehebat tendangan kerikilnya.”
“Kerikil?” tanya Tiffanny.
“Ah, jangan pedulikan omongannya. Kalau ingin melihat latihan kami, boleh kok. Semangatku pasti langsung berlipat-lipat kalau kamu datang.” Minho mengatakannya sambil tersenyum lebar.
Taemin menahan napas.
“Jadi boleh, ya? Aku juga ingin melihat Minho berlatih.” Ucap Tiffanny senang.
Taemin merasakan dadanya tiba-tiba sesak, ntah karena apa dia pun tidak mengerti. Dan akhirnya Taemin mengangguk, “Boleh. Nanti sore, ya.”
.
.
.
.
Sore itu Tiffanny dan Taemin berjalan bersama menuju tempat latihan. Dengan riang yeoja cantik itu melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah yang panjang. Taemin sudah mengira kalau anak-anak pasti akan tercengang melihat kedatangan Tiffanny.
Benar saja. Ketika Tiffanny masuk ke ruang klub, semua anak menatap heran dan juga bingung. Semula Taemin mengira bahwa semua akan bersorak riuh seperti saat berhasil memasukkan bola ke gawang lawan, namun kali ini sambutannya benar-benar di luar dugaan. Anak-anak yang selalu mempunyai cadangan energi bila di lapangan, sekarang lain. Mereka hanya terdiam sambil melongo melihat kedatangan Tiffanny.
Bahkan beberapa anak yang sedang memakai kaus jadi terpaku karenanya. Gerakan tangan mereka yang sedang memasukkan kaus jadi terhenti di udara. Mereka seperti patung-patung di museum lilin.
“Hai,” sapa Tiffanny riang.
Tidak ada yang menyahut. Seakan mereka sedang berada di batas mimpi dan kenyataan.
“Ya! Disapa Tiffanny kenapa kalian malah diam saja, eoh?!” ucap Taemin ketus. “Tidak sopan.”
Setelah Taemin berkata begitu, kesadaran mereka langsung pulih. Anak-anak berebut menyalami Tiffanny. Hanya Jinki yang tetap tenang. Dia menoleh sekilas lalu kembali menalikan sepatunya.
“Tiffanny,” panggil Taemin setelah histeria itu mereda. “Kenalkan. Ini Jinki hyung yang kuceritakan tadi.”
Jinki segera berdiri, lalu mengangguk.
“Taemin bilang, Jinki oppa kapten tim sepak bola sekolah kita. Senang sekali bisa berkenalan dengan oppa.” Kata Tiffanny ramah.
Jinki jadi salah tingkah, dia hanya bergumam lirih dan itu membuat Taemin tertawa melihat gelagatnya yang lucu.
Anak-anak yang lain sebenarnya masih ingin bercakap-cakap dengan Tiffanny. Tetapi Jinki sudah memberi isyarat untuk segera turun ke lapangan.
“Ya! Kenapa buru-buru?! Bukannya masih 15 menit lagi?”
“Kenapa cepat sekali?!”
“Nanti Tiffanny ke lapangan, kan?”
Entah siapa yang berteriak begitu. Karena keadaan benar-benar ramai.
Tiffanny mengangguk riang, “Pasti. Aku ingin melihat permainan kalian.”
Anak-anak bersorak riuh sambil berlari ke lapangan.
“Taemin, kami duluan ke lapangan, ya.”
“Ya, kalian duluan saja. Aku masih harus membereskan ruangan. Nanti kususul.” Kata Taemin. Terbayang isi ruangan yang berantakan ditinggal sekumpulan anak-anak itu.
“Kalau begitu kubantu, ya,” kata Tiffanny.
“Tidak perlu, terima kasih. Ini tugasku. Kau pasti tidak akan tahan mencium bau keringat mereka.” Canda Taemin.
“Hmm…oya, tadi Minho kemana? Aku ingin melihatnya berlatih. Kenapa sekarang belum muncul?” kata Tiffanny benar-benar terlihat kecewa.
Taemin pun terdiam membenarkan. Minho…eodiseo?

TAEMIN POV
Tiba-tiba saja aku merasa sedih. Seperti perasaan yang kualami ketika Minho pindah ke bangku belakang. Ada sesuatu yang seakan hilang.
“Sebentar lagi pasti muncul. Minho belum pernah absen selama ini.” Kataku menenangkan Tiffanny yang tampak khawatir.
Tiffanny pun akhirnya mengangguk, “Baiklah, akan kutunggu di lapangan kalau begitu. Taemin, aku duluan ya?” ucap Tiffanny sambil berjalan ke lapangan.
“Ne, nanti aku menyusul.” Jawabku sambil berbalik kembali ke ruangan. Minho kemana, ya? Batinku khawatir. Dia tadi bersemangat sekali sewaktu Tiffanny mengatakan akan menonon latihan. Tapi kenapa sampai sekarang batang hidung jeleknya itu belum juga muncul?? -_-
Aku terbelalak begitu sadar dengan keadaan ruangan yang benar-benar kacau berantakan. Rupanya mereka terlalu bersemangat mengajak Tiffanny berkenalan, sehingga melempar seragam mereka begitu saja. Ck, dasar!
Satu per satu kuatur seragam yang berserakan ke loker masing-masing. Sekarang aku sudah hapal dengan pemilik seragam-seragam ini dan juga kebiasaan masing-masing anggota klub. Jinki hyung yang paling rapi. Sesempit apa pun waktu yang dia punya, seluruh barangnya tertata rapi di dalam loker. Lokernya juga selalu terkunci rapat. Tidak pernah kulihat barang Jinki hyung berserakan atau bercecer. Dan aku ingat dengan salah satu kebiasaan anggota klub yang ku anggap cukup aneh. Kim Jonghyun. Dia selalu memakai kaus kaki dan sepatu dulu sebelum mengenakan celana. Melihatnya terkadang aku suka tertawa sendiri.
“Aku tidak suka celanaku jadi tidak rapi karena harus membungkuk membetulkan tali sepatu.” Begitu alasan Jonghyun sewaktu aku pertama kali menanyakannya.
“Kau kan bisa menaikkan kakimu sejajar pinggang,” kataku.
Jonghyun menggeleng. “Itu malah lebih tidak rapi lagi. Kerutan di paha akan semakin terlihat.”
Dan argument terakhirnya itu membuatku menghela napas dan kemudian diam. Tersenyum melihatnya yang memakai sepatu hanya dengan boxer.
Dari semua anggota klub, yang paling berantakan adalah Minho. Semua barangnya dilempar ke dalam loker begitu saja. Akibatnya  pintu lokernya tidak pernah bisa ditutup. Baru saat latihan kemarin aku bisa menutup pintunya setelah barang-barang di dalamnya kuatur dengan rapi.
Aku pernah melihat isi loker Minho. Waktu itu dia meminta bantuan mencarikan pasangan kaus kakinya. Sangat sulit ditemukan karena isinya bertumpuk-tumpuk. Semuanya bercampur aduk menjadi satu. Bola karet, sepasang sepatu cadangan, jaket, topi, buku-buku, botol tempat minum yang entah sudah berapa lama tidak dicuci, handuk besar, dan entah apa lagi.
“Isi lokermu sebenarnya tidak ada yang istimewa. Yang istimewa adalah cara menyimpan barang-barang di dalamnya. Semuanya campur aduk menjadi satu.” Aku mengomel sambil membuka tumpukan kausnya.
“Itu namanya kreatif, tahu?!” sahutnya. “Oh! Itu dia!” Minho berteriak senang sambil menarik tanganku dan mengangkatnya ke udara. Lalu dia bersorak sorai riang.
Aku ikut tersenyum senang. Aku seperti melihat anak kecil yang menemukan kembali mainannya setelah sekian lama hilang. Wajah Minho saat itu benar-benar menggemaskan.
Kulirik loker Minho. Perasaanku menjadi hangat setiap kali melihatnya. Ya, namja si pemilik loker telah kusimpan di dalam hatiku. Aku sengaja menyimpannya, karena aku tidak berani mengatakan suka padanya. Aku bisa membayangkan, Minho pasti akan mengejekku seperti biasa. Aku tidak berani mengatakannya, karena aku…aku tidak tahu perasaan Minho padaku. Kalau saja aku yeoja…mungkin ini akan lebih mudah….
Kulihat Tiffanny duduk di bawah pohon. Sesekali dia bertepuk tangan. Berkali-kali anak-anak memalingkan wajah, menatapnya sebelum menggiring bola. Akibatnya, permainan berjalan lambat. Belum lagi mereka yang sengaja mencari perhatian dengan berteriak atau meloncat supaya Tiffanny menoleh.
“Sssh… Taemin!”
“Hah?!” Aku terlonjak kaget.
Minho! Wajahnya menyembul dari balik pintu.
“Kalau mau masuk, masuk saja. Jangan cuma kepalanya begitu! Buat kaget, tahu!” gerutuku.
Minho memasuki ruangan sambil celingukan. “Semua sudah ke lapangan?”
Aku mengangguk, “Kenapa kau terlambat? Tidak biasanya?”
“Terlambat? Kan lima menit lagi baru turun ke lapangan. Bukannya mereka yang terlalu cepat?”
Kulihat jam dinding. Benar. Seharusnya ini belum saatnya berlatih. Aku teringat kejadian tadi. Jinki hyung yang salah tingkah dan memberi isyarat agar semua anak ke lapangan.
“Pasti karena Jinki hyung.” Kataku sambil tertawa.
“Hyungku? Ada apa dengannya?”
Aku tidak menjawab, hanya memberi isyarat agar Minho melihat keluar jendela. Di bawah pohon tampak Tiffanny duduk sambil tertawa-tawa.
“Coba lihat.”
“Tiffanny? Dia menonton?”
“Tadi kan dia sudah bilang mau melihat permainanmu. Apa kau lupa? Atau…pura-pura lupa?!”
Minho diam, “Oh, begitu. Wah, aku pasti jadi semangat diperhatikan yeoja cantik seperti Tiffanny. Aku senang melihat tawanya.”
Deg!
“Lihat gayanya, Taemin. Dia memang yeoja idaman yah. Lembut dan keibuan.” Kata Minho sambil membelakangiku, memandang Tiffanny dari jendela.
Darahku seperti berhenti mengalir ke jantungku. Mataku nanar melihat Minho yang sedang tersenyum bersandar di jendela memandang ke arah lapangan.
“Ya kan, Taemin?”
Tiba-tiba Minho menoleh.
Aku terkejut. A-aku tidak ingin dia melihat mataku yang mulai berair dan mengetahui bahwa aku sedang gelisah.
“Kau kenapa? Dari tadi diam saja.”
Aku cepat-cepat menggeleng tidak ingin dia tahu isi hatiku yang benar-benar terasa sesak, “Tidak ada apa-apa.”
“Kau lelah ya membereskan ruangan ini setiap kali kita berlatih…”
“Anii. Aku…aku suka, kok.”
Minho mengerutkan alisnya dan memandangku penuh selidik, dan aku tersenyum “Ya, sudah. Aku ke lapangan dulu. Aku juga ingin Tiffanny melihat permainanku. Tendanganku oke, kan?” katanya sambil menalikan sepatu. “Eh ya, Taemin. Soal kerikil jangan kau beritahu pada yang lain, ya.”
Aku tidak megerti maksudnya tetapi aku hanya mengangguk.
Kemudian Minho keluar. Sesampainya di pintu dia berbalik. “Taemin, gomawo. Lokerku sudah kau rapikan.”
Belum sempat aku menjawab, dia sudah melesat keluar.
Melihat Minho datang, Tiffanny langsung berdiri menyambut dengan senyum lebar menghiasi wajah cantiknya. Di sepanjang permainan babak pertama, dia terus memperhatikan Minho. Ketika namja itu membuat gol, aku tidak bisa menyembunyikan bahwa aku turut gembira. Aku berjingkrak sambil mengacungkan dua jempol.
“Kau hebat Minho!” teriakku yang melihat dari balik jendela. Jelas, dia tidak akan mendengarnya.
Tapi tiba-tiba Minho menoleh ke arahku lalu melambai sambil tersenyum riang. Kubalas dengan melambaikan kaus yang tengah aku pegang, entah kaus milik siapa. (Aku sedang memunguti kaus-kaus yang berserakan tadi).
Tetapi…ternyata aku salah. Bukan aku yang dituju oleh Minho. Di hadapanku berdiri Tiffanny yang sedang melambaikan tangan dengan penuh semangat. Minho tertawa lalu kembali berkonsentrasi ke lapangan.
Aku lebih suka mengamati permainan mereka dari jendela ini, karena dari sini aku bisa leluasa memandang Minho tanpa takut ketahuan orang lain. Tetapi tadi aku sudah terlanjur berjanji dengan Tiffanny untuk menonton bersamanya di lapangan. Akhirnya setelah melipat kaus terakhir, aku pun bergegas ke sana.
“Minhoooooooooo!!”
“Wah, semangat sekali…” kataku pada Tiffanny ketika aku sampai di lapangan dan berdiri di sebelahnya.
“Kamu benar Taemin. Permainan Minho sanga bagus! Di Perancis, anak yang menjadi bintang lapangan pasti punya banyak penggemar dan menjadi populer. Aku pasti punya banyak saiangan yah? Benar kan, Taemin?”
Tiffanny…menyukai Minho…?
“Taemin?”
“Eh?! Aku…aku tidak tahu.” Jawabku.
“Benarkah? Kau tidak tahu? Bukankah kau dekat dengan Minho, eum?”
“Ya…aku memang dekat tapi…kenapa tidak kau tanyakan sendiri saja?” karena aku betul-betul tidak tahu. Aku tidak terlalu peduli dengan hal-hal seperti itu, tapi begitu Tiffanny menanyakannya, aku jadi cukup penasaran. Apa benar Minho banyak yang suka??
“Oh, begitu…baiklah, nanti aku akan bertanya.” Jawabnya riang.
Dan Tiffanny benar-benar menanyakannya pada Minho. Ini terjadi ketika kami bersama-sama keluar dari lapangan.
“Minho punya banyak penggemar, ya?” Tanya Tiffanny tiba-tiba.
Mungkin karena terbiasa bergaul cara barat yang terbuka, Tiffanny mudah saja menanyakan hal itu. Kulihat Minho agak terkejut, tapi dia hanya tertawa. “Penggemar? Maksudmu?”
“Maksudku…penggemar yang menyatakan rasa suka padamu.” Jawab Tiffanny blak-blakan.
“Hmm…kalau yang seperti itu, sepertinya belum ada.”
Issh, memangnya dia itu tampan? Coba sana berkaca dan lihat mata lebarmu itu! Mata seperti kodok, wajah seperti alien…. Memangnya kau begitu tampan sampai harus menunggu orang lain mengatakan suka padamu, eoh?!  Aku benar-benar kesal mendengar kepedean-nya, tapi…salah satu bagian diriku menyadarkan bahwa…berarti kesempatan untukku masih terbuka lebar(?)
“Benar belum ada?” desak Tiffanny.
Tiba-tiba dadaku sesak dan jantungku berdetak sangat kencang memukul dadaku. Apa Tiffanny akan menyatakan perasaannya pada Minho? Oh Lord, kalau itu sampai terjadi, maka patung indah yang kubangun dari kerikil-kerikil yang setiap pagi ditendang Minho ke punggungku akan berantakan. Semua yang selama ini kunikmati sendiri akan berhenti mendadak.
Minho menegakkan kepal, “Belum… Tapi entah kalau ada penggemar gelap.”
Deg!
Mu-mungkinkah…dia tahu bahwa selama ini aku sering memperhatikannya dan selalu merindukannya kembali duduk di sampingku? Merindukannya setiap kami berpisah di depan apartemennya dan aku dengan sangat tidak sabar menanti hari berganti esok untuk kembali bertemu dengannya? Dan…alasanku menjadi manajer klub sepak bola juga adalah karena dirinya.
Aku baru sadar, bahwa aku benar-benar tidak ingin berpisah dengan Minho. Aku ingin selalu berada di dekatnya
“Wah, ketemu lagi. Jangan-jangan kau suka padaku, ya?” sindir Minho sewaktu kami berjalan pulang bersama-sama.
“Enak saja. Aku mau menjadi manajer di sini karena…”
“Karena ada aku, kan?” sela Jinki hyung.
Aku tertawa.
“Benar begitu?” tanya Minho cepat.
“Hmm…benar juga. Kudengar permainan Jinki hyung memang bagus. Lagi pula kalau sudah kenal baik dengan kaptennya, tugas seorang manajer biasanya menjadi lebih menyenangkan.” Aku beralasan.
Jinki hyung memandangku dengan serius lalu mengangguk sambil tersenyum.
Maka, aku resmi menjadi manajer klub bersama Kibum. Tapi belum sampai sebulan, Kibum mengundurkan diri sebagai manajer. Sambil mencari manajer pengganti, sementara ini aku harus bekerja sendiri. Mencari manajer yang mau mengerti kebiasaan anak-anak pemain sepak bola itu tidak mudah, kata Jinki hyung. Makanya mereka berhati-hati memilih.
“Penggemar gelap?” Tanya Tiffanny. Pertanyaannya membuyarkan lamunanku. “Aku tidak suka tipe yang seperti itu. Kedengarannya pengecut, ya.”
Minho hanya diam tidak menjawab, sedangkan aku hanya bisa member komentar, “Hmmm.”
“Minho suka tipe yang seperti apa?” Tanya Tiffanny lagi.
Aku sengaja melangkah di belakang mereka. Aku tidak siap mendengar jawaban Minho. Tidak. Sebenarnya aku ingin mendengar…tetapi aku terlalu takut untuk mengetahuinya.
Minho memindahkan tas besarnya ke pundak kiri, “Hmm aku suka yang…cantik, pasti.”
Ugh! Leherku rasanya seperti dicekik dengan keras. Bukankah tadi di ruang klub, Minho mengatakan kalau Tiffanny cantik?
“Lalu…keibuan.”
DUAR! Kepalaku seakan meledak dan aku seperti ingin mati saat itu juga. Tadi Minho juga mengatakan kalau dia suka yang keibuan! Eottokhe?!!! Apa aku akan menjadi saksi mereka menjadi sepasang kekasih?
Tiba-tiba pandanganku kabur. Setitik air memenuhi mataku dan yang paling menyesakkan, aku merasa sendirian di antara mereka, di luar pembicaraan mereka.
“Kalau begitu…” sambung Tiffanny, “Aku masih mempunyai kesempatan, kan?”
Minho tertawa, “Kesempatan selalu terbuka untuk yang berani mengungkapkan.”
Mereka tertawa bersama, dan aku tidak tahan mendengarnya.
“Ya, anak ayam! Kau kenapa? Dari tadi kau diam saja, biasanya kau kan berisik.” Tegur Minho.
Aku tersentak, pura-pura membungkuk membetulkan tali sepatu. “Tidak apa-apa. Ini… tali sepatuku lepas.”
“Taemin pasti lelah menjadi manajer. Bagaimana kalau aku ikut membantu? Yah, sekalian bisa melihat Minho berlatih.” Kata Tiffanny.
Sekarang aku seperti sedang ditenggelamkan ke dalam sungai yang dingin. Apalagi ketika Minho mendukung, “Boleh. Nanti kita usulkan ke Jinki hyung, iya kan, Taemin?”
“Eh…ya. Kita bicarakan besok saja, ya.”
Kami sudah sampai di pertigaan jalan. Harusnya aku dan Minho mengambil jalan ke kiri dan Tiffanny ke kana, tetapi tidak kali ini.
“Aku ingin tahu apartemen Minho. Boleh aku lewat jalan ini? Di dekat sana ada perempatan jalan menuju rumahku.” Kata Tiffanny riang.
“Rumahmu kan jauh. Nanti akan semakin jauh kalau harus memutar jalan, kan?” kataku, berharap Tiffanny membatalkan niatnya.
“Sudahlah, ayo! Biar tidak kemalaman.” Ajak Minho.
“Kalau kemalaman aku bisa minta diantar Minho, kan?” Tanya Tiffanny manja.
“Boleh.”
Sepertinya aku benar-benar kalah. Seandainya ada time out, agar aku bisa mengatur strategi untuk menghadapi saat menegangkan seperti ini. Aku tidak bisa mambayangkan bagaimana harus berjalan bersama mereka. Dan aku sadar, sebelum aku melangkah…aku sudah dihadapkan oleh tembok tinggi yang tidak mungkin bisa kupanjat. Apa aku harus menyerah?
“Oh ya, Minho, Tiffanny. Aku baru ingat tadi umma memintaku ke supermarket dulu. Ada yang harus dibeli. Kita pisah di sini, ya. Sampai besok.”
Saat aku melangkah pergi, tanganku digenggam oleh Minho yang mencegahku. “Tadi pagi kau tidak bilang mau ke supermarket?”
Aku melirik tanganku yang digenggamnya, hangat….
“Mian, aku baru ingat.”
“Wah, sampai rencana ke supermarket pun Minho tahu. Kalian memang sahabat dekat, ya…tapi, Minho masih membuka kesempatan untukku, kan? Kalian…tidak berpacaran, kan?”
Minho dan aku jadi salah tingkah. Buru-buru kulepaskan tangan Minho dari tanganku.
Aku ingin tangan hangatnya hanya menggenggam tanganku seorang….
            “Hahaha Tiffanny kau bicara apa? Tidak, kok! Ya, sudah ya! Nanti kemalaman. Sampai besok. Annyeong~!” kataku setengah berlari. Ya, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kalau aku terus berada di sana, aku takut mereka melihat air mataku yang kini tanpa seijinku mengalir di pipiku.
“Taemin!”
Tanpa mempedulikan panggilan Minho, aku terus berlari menjauh.
Aku tidak pergi ke supermarket karena itu memang hanya alasanku saja. Aku masuk ke sebuah taman. Dulu sewaktu aku masih kecil, Umma sering mengajakku ke taman ini. Sore yang hangat adalah saat yang paling menyenangkan untuk bermain ayunan. Aku sangat suka bermain ayunan, dan ayunan favoritku ada di ujung, di dekat semak pembatas. Di ayunan inilah aku tertunduk lesu.
Tiffanny benar. Aku memang pengecut yang menyukai Minho secara diam-diam. Seandainya aku berani mengatakan suka sejak dulu, pasti tidak akan begini jadinya. Dan sekarang, ketika Minho sedang bersama Tiffanny, rasa sesal yang amat sangat mendera hatiku. Aku yang selama ini selalu dekat dengan Minho malah menjadi terasing. Jika berjalan bertiga, rasanya aku seperti makhluk asing yang tidak sejalan dengan mereka.
Baru kali ini Minho dan aku pulang terpisah dan Minho meninggalkanku. (Walau sebenarnya aku yang pergi meninggalkannya). Hati kecilku menyuruhku untuk mengungkapkan perasaanku, tetapi mengingat wajah bahagia Tiffanny ketika berada di dekat Minho, aku tidak sanggup menghancurkan kebahagiaannya. Aku hanya akan menjadi kerikil yang menghalangi mereka.
.
.
.

Keesokan hari, sepulang sekolah adalah giliran aku dan Minho untuk piket kelas. Setelah kejadian kemarin, aku dan Minho menjadi sedikit canggung. Ketika berangkat sekolah pun kami tidak terlalu banyak bicara, padahal biasanya kami saling mengejek atau berdebat selama perjalanan menuju sekolah.
Dan seperti saat ini, aku dan Minho mendapat bagian membuang sampah dan membuangnya ke pembuangan akhir di halaman belakang.
Aku memegang sisi sebelah kanan dan Minho sisi satunya. Kami berjalan dengan diam. Rasanya benar-benar tidak nyaman, sampai…
“Minhooooo!” terdengar suara Tiffanny memanggil.
Kami menoleh dan sepakat berhenti.
“Apa masih lama?” Tanya Tiffanny.
“Ya, hari ini aku piket. Mian jadi menunggu. Setelah membuang ini selesai, kok.” Jawab Minho dan Tiffany tersenyum mengangguk.
“Kalian ada janji?” tanyaku.
Apa kalian akan berkencan?
“Tadi aku minta Minho mengantarku ke DDM.” Jawab Tiffanny.
Jadi mereka benar-benar berkencan…apa kemarin Tiffanny sudah menyatakan perasaannya? Apa mereka telah berpacaran?
“Kenapa tidak bilang padaku?” aku terkejut dengan nada bicaraku sendiri, sedikit terdengar menuntut.
Minho baru akan menjawab tapi Tiffanny menyela, “Waah, jadi kalian harus saling memberitahu dan meminta ijin ya? Waah…aku iri…”
“Bukan begitu Tiffanny. Kalau Minho bilang padaku, Minho bisa melepas piketnya untuk hari ini. Agar kau tidak menunggu lama.”
Minho mengernyitkan dahinya hendak protes. “Bukannya biasanya kau selalu melarang orang yang membolos piket?”
“Aku bisa menggantikan tugasmu. Dan minggu depan kau menggantikan tugasku, adil kan?” ucapku beralasan.
“Memang minggu depan kau mau kencan dengan siapa?” ledek Minho.
Deg!
“Waah… Taemin punya pacar, kah? Taemin kan manis…pasti pacarmu namja tampan, kan?! Kalau pacarmu yeoja, pasti mereka malu karena kalah saing darimu. Hahaha. Oya, nanti kita bisa kencan ganda, iya kan, Minho?!”
“Bu-bukan begitu…aku belum punya pacar. Tidak ada kencan, tadi aku cuma bercanda.”
Tapi seolah tak mendengar, Tiffanny terus saja mengoceh tentang ‘pacarku’…
“Hmm…tipe idaman Taemin pasti yang kalem tapi tegas, ya? Soalnya kalau sama-sama ribut seperti Minho, tidak cocok. Tidak seimbang.”
Deg!
Aku terdiam, begitu juga Minho.
Dan setelah membuang sampah, mereka pun pamit duluan. Melihat mereka pergi bersama, aku semakin sadar. Bahwa tempatku di antara mereka, sama seperti sebuah bayangan. Tidak terlihat, dan terlupakan.
Aku berjalan menuju taman kemarin, dan duduk di ayunan favoritku. Hatiku benar-benar sakit. Tapi Tiffanny mengatakan aku manis..dan pacarku nanti pastinya seorang namja…kalau itu benar, aku ingin dia adalah Minho.

AUTHOR POV
Taemin menangis semakin terisak. Hari sudah malam dan bulan sedikit tertutup awan. Tetesan air hujan mulai turun membasahi tanah. Taemin berdiri namun tangannya masih menggenggam besi ayunan.
Ada dua pilihan yang diajukan oleh hati kecil Taemin, mengatakan suka dengan kemungkinan ditolak dan hubungan menjadi tidak enak, atau tetap diam walau membuat hati sakit?
Ia memejamkan matanya dan menghela napas untuk memilih. Ya, Taemin memutuskan untuk memilih pilihan kedua. Meyakinkan dalam hati bahwa ia butuh time out  untuk membenahi isi hatinya dan menenangkan perasaannya.
Setelah merasa sedikit lega, Taemin pun melangkah pulang dengan ditemani hujan. Begitu melewati Apartemen Minho, bangunan itu terlihat gelap. Taemin yakin Minho belum pulang, dan kemungkinan besar masih bersama dengan Tiffanny. Lagi Taemin merasakan nyeri di dadanya. Tetapi ia sudah menetapkan hati dengan pilihannya.
Memandang sekali lagi ke arah jendela kamar Minho, dan tersenyum sendu. Hujan semakin deras, dan ditengah jalan yang sepi, Taemin berjalan sendirian…….
                                                                                  .
                                                                                  .
                                                                                  .
                                                                                  .
                                                                                  .

[2Min] Time Out /Yaoi/1 of 4

Cast : Lee Taemin, Choi Minho, (Lee) Choi Jinki, Kim Kibum, Tiffanny (coming soon)
Genre : School life, fluff, romance
Halooo~ 2min lagi yang saia bawa. hehe
Kali ini FF dari cerita cantik yang berjudul sama ‘Time Out’. Gue suka banget ama komiknya, and kepikiran buat bikin jadi 2min. Mungkin sebagian kalian ada yang tau and udah baca. Bagus yaaahh?? gemes2 unyu gitu, ini bacaan gue waktu SMP sekitar 11 tahun lalu. wkwkwkwk
NO PLAGIARISM!
NO BASH!
[shared-writting by: http://suunsanniiew.wordpress.com ]
[re-shared by: this blog ^^]
Original Story By : Akino Yoko
Edit by : Kei Love Taemin
Komen yaaahh, gomawoo… ^^v
Credit Pic by: Page Boy
.
.
.
.
Taemin POV
Pletak!
            Sebutir kerikil menerpa punggung tas ranselku. Memang tidak terasa sakit, hanya saja aku merasa sangat dongkol karenanya. Dan itu membuatku cemberut, tapi aku menahan diri untuk tidak menoleh.
Pletak!
            Kerikil kedua. Kali ini mengenai pundakku. Aku jadi semakin sebal karenanya. “Ya! Apa kau tidak ada kerjaan lain, eoh?!” bentakku sambil berbalik.
            Orang yang kubentak – si penendang kerikil –, hanya tertawa. Namja seumurku. Seragam sekolahnya sama seperti yang kupakai. Warnanya masih cemerlang, pertanda murid baru. Dan… ehm, aku pun juga termasuk murid baru. Sudah beberapa bulan ini, aku menjadi murid SMA – Seoul High School –.
            Jalan ke sekolah memang cukup dekat dari tempat tinggalku. Hanya lima belas menit berjalan kaki. Tetapi setiap aku berangkat melewati jalan ini, hampir setiap pagi aku menerima tembakan kerikil dari orang yang sama. Si namja kurang kerjaan! Begitu aku menyebutnya jika sudah kesal.
            “Ya! Cemberut di pagi hari sangat tidak baik tahu! Lihat! Matahari jadi malas bersinar!” kata namja itu seenaknya.
            Ck, bisa-bisanya dia berkata seperti itu, eoh?! Namun, dia benar. Matahari memang sedang malas bangun dan membuka mata. Cuaca cukup mendung pagi ini. Dan menurutku, sangat tidak nyaman memulai hari yang menyenangkan dengan keadaan cuaca yang kurang cerah seperti itu. Selama sehari nanti, pasti bawaannya malas dan mengantuk. Fiuh..
            “Ya! Kalau wajahmu menekuk begitu terus, nanti akan cepat keriput, hahaha!”ledeknya sambil tersenyum jahil padaku. Melihat wajahnya yang tersenyum seperti itu, membuatku jadi ikut tersenyum.
            “Nah! Begitu lebih manis.”katanya sambil berjalan cepat mendahuluiku.
            Apa?! Manis?? Hei! Aku namja!
            “Ya!” panggilku.
            “Mwo? Kalau perlu sesuatu, katakan dengan baik-baik dan jangan berteriak begitu.”
            Wajahnya yang sok serius itu membuatku semakin kesal.
            Kutarik tasnya. “Kau harusnya minta maaf.”
Namja itu menaikkan alisnya yang tebal. “Aku? Minta maaf? Memangnya aku salah apa?”
            “Berapa kerikil yang sudah kau tendang?! Berapa kali punggungku kena sasaran, eoh?!”
            Ekspresi wajahnya sesaat menegang, lalu kembali seperti semula. “Oh…itu. Hmm, aku cuma ingin membuktikan tendanganku memang jitu. Dan punggungmu…hei, tas-mu baru, ya? Pasti kau sengaja memakai ransel untuk menghindari tembakan kerikilku. Ha ha ha, cerdik juga caramu.”
            Aku tersenyum. Rasanya aku memang tidak bisa marah jika sudah berhadapan dengan makhluk ini. Selalu saja aku memaafkannya jika dia melakukan keisengannya padaku, walau kadang sering keterlaluan tapi pasti akan berakhir dengan aku yang memaafkan perbuatannya itu.
            Choi Minho. Aku mengenalnya sewaktu upacara penerimaan murid baru. Nomor absen kami berurutan. Aku nomor 24 dan dia nomor 25. Sebagai murid baru yang belum saling mengenal, semua jadwal piket dan pembagian tempat duduk berdasarkan urutan absen. Dan itu membuatku sering duduk di dekatnya. Termasuk jadwal piket membersihkan kelas selepas bel pulang.
            Perkenalanku dengan Minho bukanlah perkenalan yang wajar. Waktu itu aku berangkat sekolah dengan tergesa-gesa. Aku tidak ingin terlambat di hari pertama sekolah. Aku sudah bertekad untuk menjalani masa SMA dengan gembira. Hanya gembira. Jangan sampai sedih ataupun ada kejadian yang membuat kecewa.
            Hari pertama yang kumulai dengan berdoa dan banyak senyum dari rumah, ternyata malah membuat wajahku bersungut-sungut, bahkan sebelum waktu aku sampai di gerbang sekolah baru. Sebutir kerikil menerpa punggungku. Tentu saja aku kaget. Ketika aku menoleh, kulihat seorang namja sebayaku sedang tersenyum lebar. Dia berdiri di depan pintu gerbang apartemen yang lumayan mewah. Wajahnya sebenarnya menarik, ehm walau masih tidak bisa menandingi ketampananku tentunya. Hehehe. Namun, kerikil yang nyasar ke punggungku terlanjur membuatku kesal.
            Kuhampiri namja itu, “ Ya! Apa maumu?!” hardikku.
            Sesaat dia kaget. Pasti dia tidak menyangka aku akan berbalik dan menghardiknya.
            “Eh, tidak apa-apa. Aku hanya melatih kakiku. Tendanganku hebat, kan?!” katanya tanpa merasa bersalah.
            Aku sudah hampir marah melihat dia tidak mau meminta maaf. Tiba-tiba pintu apartemen terbuka. Seorang namja berkulit putih, berpipi tembam, dan matanya sangat sipit, benar-benar bertolak belakang dengan namja di hadapanku ini yang berkulit sedikit lebih coklat dan matanya yang besar. Tetapi kalau diperhatikan lagi, ada suatu kemiripan di wajah mereka. Melihat seragam sekolah yang dikenakan, mereka pasti satu sekolah denganku.
            “Hei, ada apa ini?” tanya si namja yang baru keluar tadi.
            Sebelum sempat menjawab, namja bermata besar itu menyahut, “Aku sedang melatih kakiku menendang kerikil. Ketika tembakanku tepat sasaran, ehh…dia marah-marah.”
            Si namja berpipi tembam melotot, “Kau pasti bikin gara-gara. Minho, ayo minta maaf.”
            Oh, namanya Minho, pikirku.
            Akhirnya si namja yang bernama Minho itu membungkuk dalam-dalam sambil meminta maaf. Tetapi matanya mengerling nakal. Aku terkesiap melihat matanya yang berbinar dan kemarahanku langsung reda. ==’a
            Namja berpipi tembam itu memperkenalkan diri. “Kenalkan. Aku Choi Jinki. Dia adikku, Choi Minho.”
            “Aku Lee Taemin,” kataku.
            “Boleh kupanggil Taemin saja?” tanya Minho.
            Aku menaikkan alisku. Namja ini benar-benar seenaknya. Tapi…dipanggil Taemin memang lebih terdengar akrab daripada dengan embel-embel ‘shi’, mungkin aku akan berteman dengannya.
            “Boleh.” ujarku.
            Lalu kami bertiga berjalan bersama. Aku melangkah berdampingan dengan Jinki hyung. Minho berkali-kali menyeruak diantara kami, sehingga dia berada di tengah. Berkali-kali pula Jinki hyung menyeret tangan adiknya untuk menyingkir bila kami sedang bercakap-cakap.
            Aku merasa beruntung berkenalan dengan Jinki hyung. Dia sudah kelas dua. Jadi, dia lebih tahu tentang situasi sekolah.
            “Ada beberapa klub olahraga yang bisa dipilih. Aku sendiri memilih sepak bola.”jelas Jinki hyung.
            “Aku juga mau ikut klub sepakbola.” celetuk Minho.
            “Aku tidak tanya,” jawabku cuek.
            Jinki hyung tertawa keras melihat Minho yang kaget dengan ucapanku barusan. Perjalanan singkat ini ternyata sangat menyenangkan. Aku jadi lebih banyak tahu tentang sekolahku yang baru. Aku sudah berangan-angan untuk memilih salah satu. Mungkin klub fotografi, tari atau olahraga.
            “Jangan memilih fotografi. Jinki hyung bilang, anaknya serius-serius. Nanti kau pasti langsung jadi tua.” nasihat Minho sok tahu.
            Di sekolah, aku bertemu dengan beberapa teman SMP. Kami segera bergabung dan berkenalan dengan teman-teman lainnya. Kulihat Minho punya banyak teman. Dia memang menyenangkan dan gampang akrab dengan orang lain bahkan dengan kakak kelas dia kelihatan sudah banyak mengenal. Maklum, Jinki hyung kan kelas dua. Pasti banyak yang pernah main ke apartemennya. Minho menyapa teman-teman hyung-nya dengan ceria, sedangkan aku hanya berjalan diam disebelahnya.
            “Hei Taemin, senyuuumm. Dari tadi wajahmu cemberut saja. Jelek tahu!” benak Minho.
            Cih, dasar… belum kenal dekat sudah berani membentak. =3=
            “Aku bukan cemberut, tahu. Kalau kau sibuk sendiri menyapa semua orang dan aku tidak kenal mereka, kau pikir aku harus berbuat apa?!” bantahku.
            Minho tertawa geli. “Iya juga, ya. Yah, aku memang memiliki pesona tinggi.”
            ==’…. aku hanya terdiam mendengarnya. Dia benar-benar percaya diri sekali.
            Walau dia itu sedikit narsis, menyebalkan dan jahil…entah kenapa ada sesuatu di hatiku yang mengatakan dia namja yang baik dan menyenangkan. Mudah-mudahan aku bisa berteman baik dengannya.
            Dan entah mengapa, mataku tidak bisa lepas dari Minho. Aku suka melihatnya tertawa. Wajahnya terlihat sangat menarik. Matanya seperti hidup bila ia sedang berbicara, dan tawa yang membuat orang lain ikut merasakan kebahagiaannya. Aku bertopang dagu di tepi jendela. Tanpa sadar aku memperhatikan Minho yang sedang bercakap-cakap dengan anak laki-laki lainnya. Tangannya selalu bergerak kalau bicara. Tawanya terdengar renyah. Ah… diam-diam aku menyimpan wajahnya yang sedang tertawa itu di dalam benakku. Aku….
            Tiba-tiba Minho menoleh ke arahku. Dari kejauhan, dia memeletkan lidah. Aku kaget, sekaligus malu. Tidak kusangka dia tahu bahwa aku sedang memperhatikannya. Dengan cemberut aku balas memeletkan lidah, lalu pergi dari jendela. Malu karena ketahuan aku sedang memperhatikannya.
            Pertemuan kedua berlangsung setengah jam kemudian. Kami harus berbaris sesuai dengan urutan nomor absen. Aku berada didepan Minho.
            “Hei Taemin, sepertinya kau tidak mau pisah denganku, eum?” katanya menggoda.
            Suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat anak-anak disekitar kami menoleh. Mereka menatapku dengan heran. Aku menjadi gemas, dan kutarik rambutnya.
            “Tidak akan kulepas sebelum kau minta ampun,” kataku.
            Minho terkekeh, “Tidak mau. Dijambak namja cantik sepertimu malah membuatku senang.”
            “Mwo?!” spontan aku melepaskan tanganku dari rambutnya. Minho tertawa geli. Anak-anak yang melihat juga tertawa.
            “Dengar Minho, aku namja dan tidak cantik! Dengar itu!” protesku dan segera berbalik ke depan.
            “Kalau marah semakin manis, Tae-Miiinn-niie~” bisiknya menekankan namaku seperti meledek.
            Aissh… cari gara-gara rupanya, eoh?! Aku segera berbalik dan akan melayangkan kepalan tanganku untuk menjitaknya tetapi suara songsaenim di depan, membuatku mengurungkan niatku.
            “Dengarkan!” kata guru tersebut, “Setiap kelas harus memilih dua orang wakilnya untuk mengikuti upacara penerimaan siswa baru besok.”
            “Lee Taemin!” tiba-tiba suara Minho terdengar lantang.
            Beberapa teman SMP yang telah mengenalku langsung bertepuk tangan.
            “Ya, Lee Taemin saja!”
            “Dulu dia aktif di OSIS SMP.”
            Aku terbengong. Aissh… dasar namja gila. Yah gara-gara ulahnya, aku mewakili kelas kami bersama dengan Kim Kibum. Tak akan pernah kulupakan senyuman Minho ketika aku berdiri di depan kelas.
            Akhirnya, aku juga dipilih menjadi ketua kelas. Wah, sebenarnya ini tugas berat mengingat aku belum mengetahui karakter anak-anak di kelasku. Sementara itu, dengan semangat tinggi Minho berkali-kali meneriakkan namaku.
            “Minho, berisik!” aku membentaknya yang kini menjadi teman sebangku-ku.
            Walau awalnya ia kaget karena aku membentaknya, tapi akhirnya ia akan tetap berbuat sesuka hatinya.
            Tugas pertama sebagai ketua kelas adalah membagi jadwal piket dan susunan bangku. Karena kami belum saling mengenal, maka diputuskan untuk membaginya berdasarkan nomor absen. Dan itu berarti, aku tetap duduk berdekatan dengan Minho. Aku juga tetap satu kelompok piket dengannya.
            Setelah selesai membagi jadwal dan kembali ke tempat dudukku, Minho mendekatkan kepalanya padaku.
            “Aku tahu, pembagian tugas itu karena kau ingin selalu dekat denganku,” bisiknya. Wajahnya begitu dekat, dan aku menjadi jengah karenanya.
            “Bukan. Aku…”
            “Ah, sudahlah. Aku tahu, kok!”
            Aku benar-benar kesal Karena dia tidak mau mendengar ucapanku dan aku hampir saja memukulnya kalau saja songsaenim tidak keburu masuk ke kelas.
            “Awas kau. Dasar ge-er.” cibirku.
            Namun, sejak kejadian itu kami menjadi akrab. Saling olok, saling mengejek. Tetapi selalu saja aku tidak bisa marah padanya. Walau terkadang aku benar-benar sangat ingin memukulnya. Dan yang paling aku suka darinya, adalah mendengar tawanya yang renyah. Diam-diam, aku juga sering mencuri pandang saat dia mengobrol dengan teman-temannya.
           Aissh…kurasa aku sudah gila! Aku akan memasukkan catatan ke notes-ku untuk mengunjungi psikiater nanti.
            Bagaimana bisa, aku tertarik dengan sesama namja, eoh? Terlebih namja menyebalkan sepertinya. Gezz….
            Hmm,, Minho memang tidak setampan hyung-nya. Jinki berwajah lembut. Walau begitu, ternyata Jinki hyung dipilih menjadi kapten tim sepak bola sekolah! Dan… kalau Minho… menurutku dia tidak jelek… dia memiliki senyum dan tawa yang menarik. Rahangnya yang kukuh membuatnya tampak serius. Namun, melihat matanya yang bersinar nakal, orang pun akan tahu bahwa namja itu luar biasa jahil, suka seenaknya.
            Bruk!
            Aku menabrak punggung Minho yang berhenti mendadak. Orang-orang menatapku dengan pandangan aneh. Tentu saja aneh, karena aku tiba-tiba menabrak punggung orang lain.
            “Minho!”
            “Bukan salahku, kan? Harusnya kau waspada kalau ada mobil berhenti mendadak.” katanya. Sejurus kemudian wajahnya kelihatan serius. “Memang kau melamunkan apa, eoh?”
            Aku gelagapan. Mana mungkin aku bilang kalau aku sedang memikirkannya. Huuu… bisa jadi ejekan sepanjang hari nanti.
            “Aku… aku sedang memikirkan pertandingan sepak bola minggu depan. Aku khawatir kita tidak bisa berlatih serius. Mana sekarang sedang banyak tugas.”
            Minho menatapku. Tepat di bola mataku.
            “Kau mengkhawatirkan klub sepak bola?” tanyanya. “Pagi-pagi begini sudah memikirkan klub?”
            Aku mengangguk mantap. “Tentu. Bukankah aku manajer klub? Wajar saja kalau aku memikirkan klub kita. Kalau kalian tidak bisa berlatih, aku juga yang repot.”
            Begitulah. Setiap hari aku selalu mendapatkan sapaan kerikil selamat pagi.
.
.
.
Author POV
            Acara latihan sepak bola selalu membuat Taemin bersemangat. Ia merasa, semangat yang keluar dari masing-masing pemain sepak bola bisa menularinya untuk terus bersemangat. Apalagi kalau melihat Jinki berlari mengelilingi lapangan, kakak laki-laki Minho itu selalu bersemangat bila sudah di lapangan bola.
            Taemin menyukai gaya Jinki saat dia sedang member intruksi pada anggota klub lain. Tegas dan membuat yang lain hormat padanya. Dia tidak tampak berlebihan dan merasa sok jadi pemimpoin sebuah klub.
            Bahkan Minho yang suka bersikap seenaknya pun menjadi takluk. Walau menghadapi adiknya sendiri, Jinki tidak pandang bulu. Mungkinkah Minho serius kalau turun ke lapangan karena sikap hyung-nya?? pikir Taemin.
            “Tentu saja aku serius. Di lapangan dia bukan hyung-ku. Dia seniorku. Aku bisa membedakan kapan harus bercanda dan kapan harus tertawa-tawa.” Jawab Minho ketika Taemin menanyakan hal itu.
            Namun, Taemin lebih suka saat melihat Minho berlari. Matanya yang tajam memandang ke depan dan wajahnya tampak bersungguh-sungguh. Sama sekali tidak kelihatan bahwa dia bandelnya minta ampun.
            Sore ini, Taemin selesai membenahi ruang klub sepak bola. Anak-anak klub sering seenaknya melemparkan kaus dan tas mereka sembarangan. Dan Taemin sangat tidak suka melihat pemandangan klub yang penuh dengan barang berserakan sehingga ia dengan suku rela membereskannya. Loker Minho tampak paling berantakan lalu Taemin mengambil sebuah kaus yang menyangkut di pintu lokernya yang terbuka, kemudian melipatnya dengan rapi, menata sepatu dan juga tas sekolah yang dimasukkan secara asal.
            “Aigoo~ kenapa berantakan sekali…” gerutu Taemin sambil menutup pintu loker Minho.
            Membereskan loker tentu saja bukan tugas Taemin sebagai manajer. Tetapi melihat loker yang berantakan itu membuat Taemin gemas untuk membereskannya. Yah, Taemin bisa memaklumi keadaan loker dan ruang klub yang berantakan. Bukan karena mereka namja yang urakan, tetapi karena waktu untuk berganti baju memang terbatas. Selepas bel pulang sekolah berbunyi, semua anak klub sepak bola berlari ke ruangan ini. Mereka punya waktu paling banyak setengah jam untuk menyiapkan diri. Bisa dibayangkan, betapa kacaunya kalau mereka datang bersama-sama.
            Jarak antara ruangan klub sepak bola, basket atau klub olahraga lain memang cukup jauh dari kelas. Mereka harus menyusuri koridor menuju halaman belakang sekolah. Di sana terbentang lapangan rumput, lapangan basket, dan lapangan tenis. Sedangkan lapangan sepak bola terletak paling ujung karena sangat luas. Mereka harus melewati beberapa lapangan olahraga lain untuk sampai ke ruangan klub.
            Taemin pun harus segera melesat keluar kelas bersama yang lain. Kalau hanya anggota klub sepak bola saja yang harus bergegas, mungkin tidak apa-apa, tapi yang membuat mereka terlambat adalah karena semua anak dari berbagai klub juga harus bergegas menuju ruang klub masing-masing sehingga koridor di depan kelas selalu penuh dengan anak-anak yang berlari untuk mengjar waktu.
            Namun, ada satu hal yang selalu membuat Taemin selalu bersemangat. Ia bisa memandangi Minho sepuas-puasnya dari jendela. Saat ia sedang berlari, jongkok, berlari kodok, atau saat ia melamun. Semua itu ia simpan dalam otaknya dan kalau mengingatnya, itu membuatnya bersemangat. Yah, Taemin akui bahwa ia terpikat oleh Minho. Walau Minho suka bersikap seenaknya, tapi itu yang membuat Taemin semakin menyukainya karena Taemin tahu, Minho hanya berbuat begitu padanya. Pada teman-teman yang lain dia memang sering jahil, tetapi berbeda dengan yang ia lakukan pada Taemin.
            Yang membuat hubunga mereka istimewa adalah karena mereka bisa berangkat dan pulang sekolah bersama-sama. Taemin terkadang balas meledeknya, atau mereka bisa bertukar cerita tentang apa saja. Dan Taemin yakin, dengan begitu berarti Minho percaya padanya.
            Menyenangkan sekali mempunyai rahasia yang hanya di ketahui berdua….
            Beberapa helai handuk harus sudah dicuci. Ketika Taemin hendak berdiri membawa keranjang berisi handuk, tiba-tiba badannya menabrak loker dan keranjang yang dibawanya pun terjatuh sehingga handuk-handuk di dalamnya berserakan.
            Ketika Taemin akan memungutinya, tiba-tiba sebuah tangan mengangkat handuk yang jatuh itu.
            “Jinki hyung?! Kenapa masih di sini? Yang lain sudah mulai berlari mengelilingi lapangan.” Kaa Taemin heran, setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih karena dibantu memunguti handuk-handuk tadi.
            “Aku mau mengambil catatan pemain yang akan turun sore ini.” Jawab Jinki.
            Taemin tersenyum, “Aku suka melihat gaya hyung ketika sudah bertanding di lapangan. Minho yang jahil dan suka seenaknya itu pun jadi serius”
            “Minho?” kening JInki berkerut. “Anak itu selalu serius kalau berhubungan dengan sepak bola. Dia sudah ikut klub sepak bola sejak SMP. Apa dia tidakperbah cerita?”
            Taemin menggeleng. “Yang aku tahu, Minho itu nakal, jahil dan suka seenaknya.”
            Jinki terkekeh geli, “Itu memang bawaan dari lahir.” Guraunya. “Oya Taemin, apa kau tidak lelah menjadi manajer di klub ini? Tugasnya kan banyak sekali.”
            “Lelah? Yah, pastinya lelah. Tapi aku menyukainya. Walaupun menurut orang lain tugas seorang manajer klub sepak bola sama dengan seksi repot, tetapi menurutku ini sangat menyenangkan. Apalagi saat melihat kalian berlatih. Aku merasa semangat kalian juga ikut menerpaku.” Kata Taemin sambil menerawang, memandang keluar jendela.
            Apa lagi saat melihat Minho berlari…. –lanjut Taemin.
            Jinki memandang Taemin serius, “Jadi itu alasanmu menjadi manajer klub kami?”
            “Ya,” Taemin balas menatap Jinki. “Menjadi manajer klub di sini berarti belajar mengurus segala macam keperluan. Yah, dengan begini aku bisa belajar untuk bertanggung jawab.”
            Namja berpipi tembam itu berkacak pinggang, “Ah, kalau begitu anak-anak akan kusuruh berlatih lebih semangat. Supaya kau ikut tertular semangatnya.”
            “Wah, jangan berlebihan begitu…” kata Taemin malu.
            “Nah, supaya kau makin bersemangat, pakailah handuk ini di leher. Kau akan terlihat seperti pelatih yang berdiri di pinggir lapangan.” Jinki mengalungkan handuk yang dipegangnya ke leher Taemin.
            Taemin terpaku. Wajah mereka sangat dekat, dan Taemin merasa pipinya panas dan memerah karena malu.
            Tiba-tiba pintu terbuka. Minho! Dia berdiri memperhatikan Taemin dan JInki dengan raut wajah yang sulit diartikan. Minho terlihat tercengan, tak percaya.
            Taemin menjadi malu kepergok ketika sedang berdekatan dengan Jinki. Bahkan tangan Jinki berada di pundak Taemin.
            “Eh, sori mengganggu.” Minho berbalik.
            “Hei!” panggil Taemin.
            “Kau ada perlu apa?” Tanya Jinki pada Minho. Suaranya sangat tenang.
             Taemin tahu, sebenarnya Jinki juga gugup. Tetapi dia bisa menguasai diri. Pastinya juga karena terbiasa menghadapi situasi tegang seperti ini ketika di lapangan.
            “Tidak. Aku…aku hanya ingin tahu daftar nama pemain yang diturunkan sore ini.” Jawab Minho. “Kata anak-anak, daftarnya tertinggal di ruangan. Jadi, aku ke sini untuk mengambilnya.”
            “Oh… itu. Aku juga sedang mengambilnya. Ini, ada di kantongku.” Jinki mengeluarkan daftar itu, dan segera keluar ruangan.
            “Jinki hyung.” Panggil Taemin.
            Namja itu berhenti dan berbalik, “Ya?”
            “Terima kasih yang tadi, ya.”
            Jinki tersenyum, lalu melambaikan tangan.
            Minho masih berdiri di pintu. Dia ikut berbalik mengikuti hyungnya. Sebelum melangkah keluar, Minho melongokkan kepalanya ke dalam ruangan.
           “Hei, terima kasih yang tadi apa, eoh? Kau diapakan oleh Jinki hyung sampai kau bilang terima kasih segala?”
            Taemin memanyunkan bibirnya, “Mau tahu saja.”
            “Oh, ayolah Taemiiin…” ucap Minho merajuk.
            Taemin menghela napas, “Tadi dia membantuku memungut handuk-handuk yang terjatuh.”
            Minho mengerutkan keningnya, “Termasuk handuk yang itu?” katanya sambil menunjuk handuk yang melingkar di leher Taemin.
             Wajah Taemin memerah, Minho pasti berpikir yang tidak-tidak.
            “Tidak, ini…”
            “Hmm, aku tahu.”
            “Hei, bukan. Aku tadi sedang membereskan ruangan sewaktu….” Ucap Taemin gugup.
             Namun, namja bermata belo itu sudah menghilang dari pintu. Percuma bila Taemin menjelaskannya. Taemin melempar             handuk di lehernya ke dalam keranjang.
             “Pasti si Minho itu akan terus-terusan mengejekku besok.” Gumamnya kesal.
             Taemin meletakkan keranjang ke sudut ruangan. Tak ada lagi yang bisa ia kerjakan sampai mereka selesai berlatih. Dari jendela, ia melihat Jinki mulai memanggil nama-nama pemain yang turun sore ini. Mereka adalah pemain yang dipilih untuk menghadapi pertandingan minggu depan.
             Taemin bertopang dagu d jendela. Pemandangan dari jendela yang paling ia suka. Dia bisa melihat lapangan sepak bola yang luas, lengkap dengan jajaran pepohonan yang mengitari lapangan. Tempat itu memang menyenangkan.
              Sekilas ia melihat Jinki melambaikan tangan padanya. Taemin membalas dengan lambaian dan senyum lebar. Sejurus kemudian Minho menoleh padanya, dan memeletkan lidah. Taemin pun membalasnya dengan sebal.
             “Weee, Minho jelek!” teriaknya.
              Taemin tertawa sendiri. Yah mana mungkin Minho bisa mendengarnya. Dia berada di dalam ruangan dan jendelanya tertutup.
              Mereka telah selesai memilih pemain dan latihan pun dimulai. Jonghyun menggiring bola lalu mengoperkan pada teman di sebelah kirinya. Tetapi musuh menghadang terlebih dulu dan menendangnya jauh ke muka gawang. Di sana ada Minho. Kakinya bagai lem yang menangkapnbola operan dengan mudah. Dengan gerakan manis, dia berputar sambil menendang bola ke arah  gawang lawan. Putaran badannya sama sekali tidak terduga oleh kipper. Endangannya yang keras berhasil menggetarkan gawang.
              “Gooool!!”
               Taemin ikut bersorak kegirangan. Minho menleh ke jendela dengan gembira Taemin mengacungkan kedua jempolnya ke arah Minho.
               “Kau hebat, Minho!” teriak Taemin semangat.
                Taemin tak peduli Minho mendengarnya atau tidak. Tetapi dari ekspresi wajahnya, dia pasti tahu Taemin gembira. Entah mengapa, dada Taemin jadi berdebar-debar.
                Minho, kau memang menarik.
                Namun kegembiraan itu hanya sekejap. Semua pemain harus kembali ke pola permainan di lapangan. Inilah yang Taemin suka dari permainan sepak bola. Kegembiraan yang meluap karena berhasil memetik gol, harus segera diimbangi dengan konsentrasi penuh pada permainan berikutnya. Penguasaan emosi yang luar biasa ini harus dimiliki oleh setiap pemain. Kalau si pemain terlalu bergembira, bisa-bisa konsentrasi permainannya melenceng. Bahkan dengan supporter banyak pun mereka tetap tak boleh terpengaruh. Latihan semacam ini sangat di perlukan untuk mengantisipasi kemungkinan supporter lawan yang lebih kuat.
                 Menurut Taemin, Minho sudah menguasai hal itu. Dan Taemin yakin kalau Minho tak kalah dengan Jinki, hyungnya.
                 Dan, sekarang Minho tengah berlari menggiring bola. Matanya tajam menatap teman yang akan ia beri umpan, sementara kakinya bergerak lincah menggiring sekaligus melindungi bola dari sambaran kaki musuh.
                  Taemin sangat suka melihat gaya Minho yang seperti itu. Rambut yang menutupi keningnya melambai-lambai di terpa angin. Matanya tajam seperti elang. Rahangnya dikatupkan kuat-kuat. Sungguh menarik.
                  Tiba-tiba Taemin merasakan hangat di dalam dadanya. Jantungnya yang berpacu lebih kencang dari biasanya. Taemin sadar bahwa ia menyukai Minho sejak pertama ia melihat tawanya. Rasa sukanya terhadap Minho, membuatnya tak bisa marah bila Minho mulai menggodanya.
                   Latihan selesai ketika matahari sudah mulai bergulir ke barat. Ruangan yang semula rapi, sekarang menjadi seperti kapal pecah. Kaus di lempar sembarangan, sepatu berserakan dimana-mana, ditambah lagi dengan bau keringat yang hmm…. Luar biasa,
                    “Hei, jangan melempar kaus sembarangan, ya! Kasihan manajer kita. Dari tadi dia merapikan ruangan ini.” Teriak Jinki. “Kalian ini bagaimana?! Sudah dibantu merapikan tidak berterima kasih malah bikin berantakan lagi.”
                      Taemin menunduk malu, “Bukan begitu. Maksudku….ini kan memang tugasku.”
                      Jinki berdiri. “Di sana kan sudah ada keranjang untuk kaus-kaus kotor. Kalau mau melempar, lempar saja ke keranjang itu.”
                       Seperti dikomando, anak-anak melempar kaus itu ke dalam keranjang cucian besar. Gaya mereka kini seperti pemain basket. Taemin tertawa melihatnya.
                        “Ha,,ha,,hmmp” tawa Taemin terhenti ketika sebuah kaus bertengger di kepalanya.
                        “Eh, mian. Kukira tadi keranjang basket.”
                         Uh, siapa lagi kalau bukan Minho. Hnaya dia yang suka berlaku seenaknya pada Taemin. Taemin mengambil kaus itu dan melemparnya balik ke arah Minho yang sedang tertawa. Yap! Tepat mengenai wajahnya. Lalu Taemin berbalik keluar ruangan.
                         “Mau kemana?” Tanya Jinki.
                         “Keluar. Bau keringat di sini luar biasa.” Kata Taemin, menahan tawa.
                         Taemin berdiri di koridor, memandang lapangan sepak bola yang sekarang kosong. Beberapa menit yang lalu, lapangan itu ramai oleh anak-anak yang berlari-lari mengejar bola. Sekarang, sunyi sepi. Hanya ada rumput dan tiang gawang yang membisu.
                         Aneh rasanya.
                         “Sedang apa di sini?”
                          Taemin menoleh.
                          Minho.
                           “Eh..tidak apa-apa. Kau sendiri sedangapa?”
                            Minho diam. Tidak biasanya ia seperti itu.
                            “Taemin, maaf tadi aku melempar kaus. Aku….”
                             Taemin menatapnya heran. “Tumben kau minta maaf? Pasti disuruh Jinki hyung, kan?”
                            “Anii.”
                             Taemin mengernyitkan dahi bingung. Tapi melihat Minho yang jadi salah tingkah, akhirnya ia menepuk bahu Minho, “Nee, ku maafkan.”
                             Setelah membereskan seisi ruangan untk terakhir kali, Taemin segera mengunci pintu. Matahari sudah meluncur ke barat. Sinarnya yang kemerahan membuat koridor terasa hangat. Taemin menyukai suasana seperti ini. Ia merasa seperti berjalan di dunia lain. Sekali lagi, ia menoleh ke lapangan sepak bola yang kosong. Sinar matahari sore membuat bayangan tiang gawang menjadi panjang.
Pletak!
                             Sebuah kerikil mengenai pundak Taemin.
                              Tanpa perlu menoleh, ia tahu benar siapa pelakunya. Hanya Minho yang mempunyai kebiasaan menyapa seperti itu. Kebiasaan yang aneh.
                             “Kau lelah, Taemin?”
                              Taemin tertawa. “Wah, aku jadi terharu. Huhuhu…hari ini kau terlihat lain dari biasanya. Tadi minta maaf, sekarang menanyakan aku lelah atau tidak. Luar biasa sekali!”
                               Dengan gemas, Minho manarik ransel Taemin, “Aku serius. Kalau kau lelah, sebaiknya kau berhenti jadi manajer. Tugas sekolahmu kan sudah cukup banyak. Kau jadi ketua kelas, manajer klub, juga pengurus OSIS. Hmm, apa kau masih kurang kerjaan?”
                              Taemin melongok mendengar kata-kata Minho barusan. Terlebih Minho mengatakannya dengan serius.
                               “Kalau kurang kerjaan, bilang padaku. Aku akan menyuruhmu berlari dua puluh kali mengelilingi lapangan.”
                              Dasar Minho! Tetap saja iseng menggoda orang.
                              Taemin mempoutkan bibirnya lalu memukul lengan Minho pelan. Akhirnya mereka keluar ruangan bersama-sama. Jinki masih berada di ruangan guru, menyelesaikan laporan untuk pertandingan mendatang.
                              “Apa yang membuatmu ingin menjadi manajer klub sepak bola, eoh?”
                              Hampir saja Taemin menjawab, Minho-lah yang mendorongnya untuk masuk ke sana. Tetapi tentu saja itu tak mungkin ia katakan.
                               “Permainan ini menarik. Setelah masuk klub, aku baru tahu. Untuk menyajikan permainan yang hebat di lapangan, butuh waktu lama untuk berlatih. Tidak hanya berlatih menendang bola, tetapi juga berbagi bola dengan anggota lain. Itu yang aku suka.” Jawab Taemin tenang.
                               “Hanya itu?”
                                Oh, ntah apa maksud pertanyaan Minho barusan.
                              “Banyak alasan lain. Hei, kau bukan eomma-ku dan juga bukan appa-ku, kan? Jadi aku tak perlu menjelaskannya padamu.” Sahut Taemin sambil memeletkan lidahnya lalu tertawa. “Sayangnya, dalam permainan sepak bola tidak ada istilah Time out. Kalau ada, kita bisa mengatur strategi singkat untuk menghadapi lawan.”
                               Minho diam saja.
            “Kau ikut turun main minggu depan?”
            Minho menendang kerikil, “Ya. Dari kelas satu ada enam orang. Lainnya anak kelas dua.”
             Taemin mengangguk. “Memang harus begitu, ya? Kalau kelas satu harus diikutkan supaya punya pengalaman. Jadi, kalau para senior sudah naik kelas tiga, kalian yang akan menggantikan mereka.”
              “Baik, manajer.”
              Taemin hanya tersenyum keki mendengarnya.
              Apartemen Minho sudah dekat. Tapi rasanya Taemin ingin jalanan antara sekolah dan apartemen Minho diperpanjang agar mereka mempunyai banyak waktu untuk berjalan bersama.
              “Tendangamu tadi bagus! Aku sampai berjingkrak-jingkrak karena senang.” Puji Taemin tulus.
               Mata besar Minho berbinar, “Pasti kau berjingkrak-jingkrak sambil memanggil-manggil namaku.”
               Muka Taemin memerah. “Anii. Jangan ge-er, ya!”
               Namun Minho seolah tak mendengar, “Gomawo. Kau suka?”
               “Ya. Aku suka.”
                Sejenak Taemin tedrdiam. “Maksudku…hmm…maksudku, aku menyukai permainanmu di lapangan.”
                “Oh, begitu.”
            Mereka terdiam. Taemin takut kalau-kalau Minho mengetahui bahwa sebenarnya ia menyukai Minho.
            Gerbang apartemen Minho sudah di depan mata. “Sampai besok, ya.” Kata Taemin sambil melambaikan tangan.
            “Annyeong~”
             Minho berdiri di depan gerbang. Taemin jadi berhenti dan berbalik.
            “Ada apa?”
             “Terima kasih kau mau membereskan lokerku yang berantakan, Taemin.”
             Wajah Minho sedikit memerah karena malu atau karena terkena sinar matahari senja, eoh?
             “Oh, itu…”
             “Jangan bilang ‘itu memang tugasku sebagai manajer’. Aku bosan dengan jwaban itu.” Selanya.
              Taemin terdiam. “Itu karena mataku seperti diganjal batu sewaktu melihat lokerm yang berantakan. Jangan dikira karena aku berbaik hati merapikannya, ya. Apa lagi bau keringatmu yang ugh…”
               Minho tercengang.
               Taemin terkekeh senang sambil berlari menjauh.
               “Hei, Taemin!”
Pletak!
                Sebutir kerikil mengenai pundaknya lagi.
               “Sampai besok, ya!” Minho berlari sebelum Taemin sempat mengatakan apa-apa. Akhirnya Taemin pun meneruskan perjalanannya menuju rumah. Bayangan Minho yang tercengang sewaktu melihatnya berduaan dengan Jinki kembali berkelebat di benaknya. Wajah Minho tampak kaget. Dia menangkap ada rasa tidak suka pada matanya.
                 Wae??
.
.
.
.

INFO buat readers^^

Annyeong haseeyooo ^^/ aku mau share beberapa FF yg berseries nih.. tapi bukan aku yang buat tapi aku ambil dari wordpressnya sanniieW unnie ^^ mgkin ada beberapa yg aku ambil, jadi nanti ada kode bahwa FF ini yg aku ambil dari wordpressnya sanniieW unni ada tanda begini [cr: https://suunsanniiew.wordpress.com/] udah ngerti kann readerss?? nahh,,kalo FF yg GA ADA begituan berarti itu karya aku hehehehe >w< udh lama yah ga update di sini. oh iya buat para readers jgn lupa "RLC"NYA YAAHH,,READ-LIKE-COMMENT. TANPA ITU AKU SENDIRI AUTHOR GA BISA BUAT APA2 HEHE O IYA BUAT INFO LEBIH LAJUT KALAU ADA YANG MAU KENAL LEBIH DEKAT FOLLOW TWITTER AKU AJA YAH.. NIH @tryeliz_