26 Jun 2013

[2MIN] TIME OUT/YAOI/PART 3 OF 4

Cast : Lee Taemin, Choi Minho, (Lee) Choi Jinki, Kim Kibum, Tiffanny
Genre : School life, fluff, romance

NO PLAGIARISM!
NO BASH!
 [shared-writting by: http://suunsanniiew.wordpress.com ]
[re-shared by: this blog ^^]
Original Story By : Akino Yoko
Edit by : Kei Love Taemin

ff
Credit Pic by: Page Boy
.
.
.
.
.

Author POV
“Ughh…” Taemin mengernyitkan dahinya ketika merasakan pusing menyerang kepalanya. “Appo…” keluhnya, kembali merebahkan kepalanya yang terasa berat ke atas bantal. Ia merasa bahwa tubuhnya sangat lemas, dan sesekali ia terbatuk.
“Omo, Taeminnie~ kau demam, nak?” tanya Umma begitu melihat anak semata wayangnya itu kembali menggulung dirinya di dalam selimut. Taemin hanya berdesis pelan, dan ia merasakan napasnya terasa panas.
Umma menaruh telapak tangannya di atas dahi Taemin untuk mengecek suhunya dan tangan satunya ia letakkan di dahinya sendiri. Membandingkan suhu tubuh mereka. Dan benar saja, “Hangat…” gumam umma.
“Ini pasti karena semalam kau kehujanan, eoh?” ucap Umma sambil membetulkan letak selimut Taemin agar tubuh anaknya itu tidak terkena angin dingin pagi itu. “Hari ini kau tidak usah masuk sekolah dan beristirahat saja di rumah, ne. Apa sekalian mau ke dokter?”
“Anii!” Jawab Taemin cepat. Ugh, dia benci rumah sakit dan suntikan. -_-
“Baiklah. Umma siapkan bubur dan sup dulu, ya. Oh, nanti umma akan menelpon Jinki untuk memintakan ijin untukmu.” Dan pintupun ditutup.
Taemin menghela napasnya dan menaruh tangannya sendiri di dahinya untuk mengetahui seberapa hangat suhunya, “Ugh…panas…” gumamnya lalu membenamkan dirinya kembali menuju alam mimpi. Tidur sebentar mungkin akan lebih baik, pikirnya. Tetapi…yang Taemin lihat justru di bantal itu tergambar wajah tampan Minho yang tengah tersenyum padanya. Taemin menjerit tertahan lalu buru-buru bangun dan melempar bantalnya ke lantai, kembali menarik selimutnya menutupi kepalanya dan meringkuk di kasur.
Siaaaalll!!! Kenapa wajah bodoh itu tidak mau pergi dari pikiranku!!!!!!!
Semakin lama kepalanya terasa semakin pusing dan berat, “Oh ayolah Taemin… tiduuurrr!” perintahnya, menghipnotis pikirannya sendiri agar tertidur.
Saat tengah berada di antara sadar dan tidak, tiba-tiba ia diingatkan dengan pertandingan sekolahnya yang akan berlangsung dalam waktu dekat ini. Taemin tersenyum lebar dan kembali bersemangat untuk tidur. Mungkin nanti siang badannya akan enakan dan ia bisa ke sekolah melihat mereka latihan sorenya.
……………….
Benar saja, siangnya Taemin merasa kepalanya sudah tidak seberat dan sepusing pagi hari. Wajahnya pun sudah tidak sepucat saat ia bangun, Umma bilang kondisinya memang terlihat membaik. Taemin pun semakin bersemangat untuk melihat Minho, tim sepakbolanya, untuk berlatih. Memikirkan itu saja Taemin sudah tersenyum lebar.
Tapi, senyum itu langsung lenyap begitu sang umma tidak mengijinkannya.
“Tidak Taemin. Kau harus istirahat.”
“Tapi Umma…Ini sangat penting! Minggu depan mereka bertanding…” Ucap Taemin dengan nada memohon dan sedikit frustasi.
“Tidak.”
“Umma….”
Umma melirik Taemin yang tengah mengerucutkan bibirnya tidak terima, merajuk. Melihat itu umma menghela napas panjang, “Baiklah.”
Taemin langsung menoleh dengan mata berbinar, bersiap memeluk ummanya tercinta.
“Boleh ke sekolah, tapi….”
Eoh?
“Tapi apa?”
“Umma ikut.”
“HAH?!”
ASTDKHBLKNLS<MNLOK:LLK>LMK
Umma kembali mengaduk sup tanpa menoleh Taemin karena ia tahu, anaknya itu tengah menatapnya tidak percaya dan sebentar lagi akan mengeluarkan aegyo andalannya.
“Kau boleh kemana saja, asal Umma ikut. Umma akan membawa panci sup ini, selimut dan juga obat untukmu.”
Taemin langsung lemas mendengarnya. Ummanya ini…. Huks, tidak mungkin ia pergi ke sekolah, menonton Minho, anak-anak latihan, dengan umma di sampingnya. Errgh…bunuh saja Taemin kalau begitu.
Akhirnya Taemin menyerah. Ia sering merasa lucu dengan gaya Umma-nya jika melarang ini atau itu. Walau sebenarnya, Umma-nya sangatlah benar. Karena umma-nya telah mempertimbangkan segalanya dengan matang dan beralasan. Dan ia menyadari bahwa sifat umma-nya ini menurun padanya. Taemin menjadi sesosok lelaki yang bertanggung jawab atas apa yang ia pilih dan berani menanggung resikonya. Termasuk pilihan yang ia putuskan tadi malam.
Taemin menghela napasnya berat. Membayangkan apa yang sedang Minho lakukan sekarang. Apa ia senang kalau Taemin tidak masuk sehingga ia bisa berduaan saja dengan Tiffanny? Apa Minho pindah tempat duduk menggantikan posisinya agar Tiffanny tidak duduk sendirian?
Tsk, Lee Taemin kau benar-benar telah menjadi gila!
Yahh…gila karena namja bernama Minho…. Choi Minho…kau telah mencuri hati Lee Taemin.
“Hufh…” Taemin memejamkan matanya menepis bayangan-bayangan Minho yang tengah bersama Tiffanny hasil kreasi imajinasinya sendiri yang sukses membuat kepalanya kembali terasa pening.
“Taemin…? Kau kenapa? Pusing lagi?” tanya Umma yang melihat Taemin menekuk mukanya menjadi semakin terlihat kusut.
“Anii…” Taemin menggelengkan kepalanya pelan lalu membenamkannya ke atas bantal untuk mengusir bayangan mereka dari benaknya. Di balik selimut, dia hanya bisa menangis tanpa suara.
“Tiffanny  itu cantik, lembut dan keibuan.”
Suara Minho kembali terngiang di telinga Taemin. Yah, Tiffanny memang sangat cantik. Umma-nya mantan model terkenal, dan Appa-nya orang Perancis yang tampan. Tak ada satupun yang bisa menyangkalnya bahwa ia memang cantik karena terlahir dari gen yang bagus.
Tiffanny juga lembut dan keibuan. Tidak seperti dirinya yang cerewet dan kasar. Kalau dipikir-pikir, dirinya jika dibandingkan dengan Tiffanny sangatlah kontras bagaikan langit dan bumi. Dan, ada satu lagi perbedaan yang sangat mencolok. Tiffanny itu sangat berani berterus terang dengan perasaannya sendiri, sedangkan Taemin? Ia…lebih memilih memendamnya. Tidak berani untuk menyatakannya.
“Taemin, ada Jinki.” Panggil Umma.
Jinki? Wae…? Apa ada yang tidak beres di klub? , batin Taemin.
Lalu Taemin pun segera turun dari kamarnya menemui Jinki setelah sebelumnya mencuci mukanya dan menyisir rambutnya.
“Hyung,” sapa Taemin riang. Ia sama sekali tidak ingin menunjukkan bahwa ia tengah sakit, sebisa mungkin ia harus tetap ceria agar tidak mengkhawatirkan orang lain. “Ada apa hyung? Apa ada yang tidak beres?”
Jinki menggeleng, “Tidak. Aku khawatir karena tadi pagi umma-mu menelponku
“Anii.”
Taemin merasa senang mendapat perhatian seperti itu. Jinki hyung memang sangat baik. Lalu mereka terdiam sesaat.
“Bagaimana latihannya? Lancar?” tanya Taemin. Merutuki kegugupannya. Kenapa ia tidak bisa berbicara seperti biasanya?
“Lancar. Tetapi karena kau tidak ada, rasanya jadi sangat berbeda.” Ucap Jinki sambil menepuk pelan bahu Taemin dan sedikit mengusapnya.
“A-aah, hyung bisa saja! Hehehe…” jawab Taemin tersipu malu.
“Benar Taemin…rasanya sangat sepi.” Jinki memasang tampang serius.
“Hahaha, pasti karena tidak ada yang mengomel kalau ada yang melempar kaos sembarangan, kan?” geli Taemin. Yahh, perasaannya jadi sedikit membaik karena Jinki.
Jinki juga ikut tertawa, “Yah, anak-anak juga mengatakan begitu. Kalau kau tidak ada, baru berasa klub sangatlah sepi tanpa omelanmu…dan kehadiranmu.”
Apa Minho juga merasakan begitu?
Blush…
Taemin merasakan pipinya panas.
“Oh ya, besok kau masuk?” tanya Jinki yang melihat Taemin terdiam.
Taemin segera menoleh dan mengangguk.
“Tapi wajahmu masih pucat…” Jinki mengelus pipi Taemin dengan sebelah tangannya.
Taemin tersentak kaget dengan sentuhan yang diterimanya, “Na-nanti malam juga pasti sembuh.” Gugup Taemin.
Bagaimana ia tidak gugup kalau jarak dirinya dan Jinki sangat dekat?! Terlebih tangan hangat Jinki baru saja mengelus pipinya. Demi apa, ia ingin Minho juga melakukan hal itu!! >///<
Arrrrggghhh!!!!! Pergi sana kau kodok jeleeeekkkk!!!! Huks ;A;
Setelah lama bercakap-cakap, Jinki pun pamit untuk pulang.
“Terima kasih atas kunjungannya, hyung. Aku jadi semakin semangat untuk sembuh. Hehe…” Taemin mengantar Jinki sampai pintu depan.
Dan, tidak dipungkiri bahwa mendengar Taemin mengatakan hal tadi membuat wajahnya memerah. “Oh, syukurlah. Aku… aku hanya… aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Nah, aku pulang ya. Bye!” Jinki melambaikan tangannya sambil tersenyum hangat.
“Bye, hyung. Hati-hati di jalan.” Taemin membalasnya dengan senyuman lebar.
Dan sosok Jinki perlahan menghilang dari pandangannya. Taemin pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Setelah baru saja ia berbaring, Umma-nya kembali memanggilnya.
“Taemin, ada Tiffanny!”
“Suruh ke kamar saja, Umma.” Sahut Taemin. Ia merasa badannya sedikit lemas kalau harus turun ke bawah lagi.
PLETAK!
“Eoh?”
Tiba-tiba sebuah kerikil mengenai jendela kamar Taemin. Jantungnya serasa berhenti berdetak, dan dengan perlahan ia membuka tirai. Omo! Dibawah sana tampak Minho tengah memandang ke arahnya. Mereka berdua berpandangan beberapa saat. Minho kemudian tersenyum lebar dan membalikkan badannya, pergi.
Taemin merasakan tubuhnya terasa ringan dan tengah melayang-layang bahagia. Dengan caranya yang aneh, Minho telah menjenguknya.
“Taemin…”
Taemin segera membuka pintu dan Tiffanny memandangnya cemas, “Omo, Taemin…kau pucat sekali…”
Taemin tersenyum melihat kekhawatiran Tiffanny, “Tidak apa-apa. Besok pagi pasti sembuh dan bisa ke sekolah lagi. Terima kasih sudah menjengukku, aku senang sekali.” Ucap Taemin tulus.
Tiffanny balas tersenyum, “Semua orang menanyakanmu, Taemin. Mereka bilang kelas jadi sepi karena tidak ada yang cerewet untuk mengingatkan mereka ini dan itu.”
Apa Minho juga menanyakanku? Apa Tiffanny dan Minho duduk bersama? Apa yang terjadi seharian ini di sekolah tanpaku, eoh? Apa kalian merasa bebas? , batin Taemin.
“Ahaha, begitu ya? Baru terasa kalau aku ternyata memang luar biasa cerewet, ne?”
“Hahaha”
Tiffanny tertawa melihat Taemin yang berpura-pura kesal.
“Oh ya, kenapa baru datang malam begini? Darimana saja?” tanya Taemin yang melihat jam dinding kamarnya menunjukkan pukul 7 malam, tapi Tiffanny masih menggunakan seragam sekolah.
“Tadi aku melihat Minho latihan. Aku rasa aku mulai menyukai sepak bola. Tadi aku juga sudah bilang pada Jinki oppa kalau aku mau menjadi manajer klub berdua denganmu. Tetapi Oppa belum menjawabnya karena harus berkonsultasi dengan guru penanggung jawab.”
Tiffanny menonton Minho latihan…. Huks, kenapa lidahku terasa pahit mendengarnya….
“Aku kesini tadi di antar Minho.” Ucapnya lagi.
Oh…jadi tadi Minho mengantarkan Tiffanny, bukan untuk menjengukku. Bukan karena khawatir padaku…? Ugh… appo…
“Minho tidak ikut masuk karena dia bilang aku alergi bau keringat. Hahaha! Minho lucu ya! Aku jadi semakin menyukainya.” Ucap Tiffanny tersenyum riang.
Taemin hanya diam. Bingung untuk mengatakan apa. Kepalanya jadi terasa semakin berat saja…
“Lima belas menit lagi dia akan menjemputku ke sini.”
Akhirnya Taemin mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan pelajaran hari ini di sekolah. Lebih baik tidak melanjutkan obrolan tentang Minho kalau itu hanya akan membuatnya semakin sedih…dan sakit.
Tak lama kemudian, Umma kembali memanggilnya.
“Taemin, ada Minho!”
Tiffanny memandang Taemin terkejut, “Umma-mu sudah mengenal Minho?”
Taemin tertawa, “Tentu saja. Minho pernah ke sini beberapa kali. Lebih tepatnya, kalau Ummaku membuat puding coklat, dia pasti tahu. Dan ikut makan bersama kami.”
Tiba-tiba wajah Tiffanny menjadi murung, “Jadi kalian memang sangat dekat ya….”
Taemin menjadi tidak enak dan merasa salah bicara, buru-buru ia menepis dengan panik. “Ah! Itu..wajar saja, kan? Hehehe, kami sama-sama namja, eoh? Jadi..wajar kalau kami dekat. Yah, berteman sesama namja. Kau mengerti, kan? Lagi pula, ternyata Ummaku dan Umma Minho berteman sejak kecil. Tapi beberapa tahun yang lalu Umma Minho dikabarkan meninggal dunia. Oleh sebab itu, Ummaku jadi merasa sangat bersalah karena tidak tahu padahal mereka bersahabat.”
Tiffanny membulatkan matanya, “Jadi…Umma Minho sudah meninggal? Wah…aku tidak tahu. Minho tidak pernah cerita padaku.” Gumam Tiffanny kecewa.
“Itu wajar Tiffanny. Mungkin belum saatnya dia bercerita padamu. Laki-laki itu biasanya tidak ingin berbagi kesedihan, kan?”
Tiffanny langsung tersenyum, “Ah benar! Kau tahu Taemin, aku bahkan sempat melupakan kalau kau itu namja! Hahahaha, habis, kau itu manis sekali…seperti perempuan! Hehe…”
“Enak saja!” pekik Taemin pura-pura kesal. Yah..tampaknya dia memang tidak bisa marah dengan Tiffanny. Dia lah yang salah karena sejak awal tidak berani jujur dengan perasaannya seperti yang dilakukan Tiffanny yang berani berterus terang menyatakan sukanya kepada Minho.
“Lagi pula, kalau ke sini biasanya Minho bersama Jinki hyung…”
Wajah Tiffanny semakin cerah mendengarnya, “Benarkah? Bersama Jinki Oppa, ya? Hoo…” ulangnya memastikan.
Lalu mereka berdua turun ke bawah untuk mengantarkan Tiffanny sampai ke pintu. Ketika Taemin membuka pintu, ternyata Minho telah berdiri di hadapannya. Awalnya ia berniat untuk tidak bertemu dengan Minho, tapi…karena Minho sudah melihatnya, mau tidak mau akhirnya ia menyapanya.
“Hai, Min-ho…” pelan Taemin.
“Wajahmu pucat sekali.” Ucap Minho.
“Tidak apa-apa, aku sudah sembuh. Terima kasih sudah mengantarkan Tiffanny.” Ucap Taemin sopan.
Minho mengerutkan alisnya, terpana.
“Ck, jelas kau sedang sakit. Demammu pasti tinggi sekali sampai-sampai bicara padaku saja jadi sopan begitu.”
Mendengar itu Taemin memajukan bibirnya kesal. Ck, dia kan ingin belajar menjadi lembut juga. Dasar Minho!
“Ternyata kalian sudah sampai di tahap antar jemput, yah? Senang sekali.” Sindir Taemin.
Tiffanny tertawa riang sedangkan Minho memandang Taemin redup. Tiffanny telah berjalan menuju gerbang tetapi Minho masih berdiri di hadapan Taemin, menatap Taemin dengan pandangan…terluka?
“Sudah sana~ Tiffanny sudah menunggu. Besok aku akan sekolah, jadi kau tidak perlu berlama-lama  merindukanku. Hehe…” goda Taemin, menutupi hatinya yang terasa sakit di dalam sana.
Minho hanya berdecak pelan mendengarnya.
Tiffanny memanggil Minho dan melambaikan tangannya kepada Taemin. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi Minho langsung berbalik pergi bersama Tiffanny.
Melihat punggung mereka menjauh, hati Taemin terasa sangat sakit dan semakin sakit. Ketika ia menutup pintu rumah, di saat itulah ia juga telah mantap menutup pintu hatinya. Selamat tinggal, Minho….

.
.
.
.


Hari minggu pun tiba dan saatnya pertandiangan antar sekolahnya melawan sekolah lain berlangsung. Hampir semua siswa menonton pertandingan tersebut karena memang diadakannya di sekolah mereka sebagai tuan rumah.
Taemin berdiri di bawah pohon bersama Tiffanny. Semua keperluan klub telah Taemin siapkan dengan sangat baik sebagai manajer. Untuk periode semester ini, Taemin memang menjadi manajer tunggal karena Kibum, memutuskan mengundurkan diri dan menjadi manajer klub basket.
Taemin hanya duduk diam tidak seperti Tiffanny yang terus bersorak menyemangati tim. Taemin baru akan berteriak girang kalau tim mereka berhasil menciptakan gol.
“Taemin, Minho keren sekali, ya! Kyaaaa! >///<” bisik Tiffanny histeris.
“Tapi di luar lapangan, sifat aslinya baru ketahuan. Hahaha!” ledek Taemin. Tawanya terdengar sumbang dan terkesan dipaksakan. Tapi Taemin telah berusaha dengan sekuat tenaga yang ia bisa. Untuk tidak menujukkan kesedihannya…karena ia telah memutuskan menutup pintu hatinya.
“Minhooooooo!!!”
Dari seberang lapangan tampak anak-anak perempuan yang berteriak-teriak memberikan dukungannya pada Minho. Minho hanya menoleh sekilas ke kerumunan yeoja -cantik- yang memanggil-manggil namanya namun ia segera kembali fokus pada pertandingan dan bola yang berada di kakinya.
Minho berlari dengan penuh konsentrasi melewati Taemin dan Tiffanny. Rambutnya melambai-lambai tertiup angin membuat Tiffanny meneriakkan namanya terus menerus.
Tiffanny meremas tangan Taemin gemas, “Taemiiinnn, Minho tampan dan sangat keren! Aku sukaaa!!”
Mendengar itu Taemin terasa tercekik , sukaa…sukaa… kata-kata Tiffanny terus terngiang di telinganya.
Errgghh,,, sakit sekali Minho…. TT_____TT
Pertandingan persahabatan berakhir dengan kemenangan tipis, 3-2 untuk kesebelasan Jinki. Dari semua pemain, jelas Minho yang paling banyak mendapat perhatian. Permainannya memang menawan, sampai posisi Jinki yang populer karena ia kapten tim itu pun sedikit tersisihkan. Tetapi dengan bangga dan tulus, Jinki menyalami adiknya itu.
“Permainan bagus, bung. Pertahankan terus, ok?” ucapnya sambil menepuk punggung Minho ketika mereka berpelukan.
“Ya. Pasti, hyung.” Singkat Minho membalas pelukan dan tepukan Jinki.
Taemin tengah membereskan botol minum dan juga handuk. Begitu para pemain beristirahat, para yeoja yang sedari tadi heboh di pinggir lapangan pun menyerbu kumpulan namja itu. Mereka berebut menyalami dan tentu saja, kerumunan yang paling banyak dan heboh adalah Minho. Dia sampai kewalahan melayani jabat tangan pada para penggemar(?)nya tersebut.
“Asiknya yang jadi idola…” goda Taemin menyikut lengan Minho lalu ia mengangkat keranjang handuk kotor untuk di bawa ke ruang laundry.
“Hei, Taemin! Taemin-ah! Tunggu!” suara Minho tenggelam oleh riuhnya para yeoja yang mengajaknya bicara.
Taemin tersenyum pahit. Minho bukan lagi miliknya seorang…. But, wait? Memang kapan Minho pernah menjadi miliknya? Ck, mimpi saja kau Taemin…. , batinnya.
Taemin tersadar bahwa di antara kerumunan tadi tidak tampak batang hidung Tiffanny. Kemana yeoja cantik itu?
Setelah mengedarkan pandangannya kesana kemari, Taemin akhirnya melihat sosok Tiffanny yang tengah duduk di bangku di bawah pohon tadi. Dia tidak ikut berebut memberi selamat. Yahh, Taemin tahu pasti Minho akan menyisihkan waktunya untuk nanti berduaan dengan Tiffanny. Oleh karena itu Tiffanny tidak perlu berebutan. Dia sudah mempunyai tempat khusus di hati Minho.
Taemin mendongakkan kepalanya ke atas memandang langit sore yang cerah. Alih-alih untuk mencegah agar air matanya tidak tumpah. Tidak. Dia tidak boleh cengeng. Ini keputusannya dan ia harus menanggungnya. Walau rasa sakit itu seolah membunuhnya perlahan…
Benar saja, ketika Minho melihat Tiffanny, ia melepaskan diri dari kerumunan. Tiffanny berdiri dengan anggun dan menyalami Minho. Keduanya terlihat berbincang sejenak. Tiffanny meraih tas Minho, lalu mendahuluinya ke gerbang sekolah. Yahh, mungkin Tiffanny akan menunggunya di gerbang selagi Minho pergi ke ruang ganti.
Taemin menggigit bibirnya, merasakan matanya kembali panas. Ugghh….
“Sini kubawakan.”
Jinki.
Taemin terkejut dan ia teringat kalau ia bahkan belum memberi selamat pada kapten tim-nya yang telah membawa mereka pada kemenangan.
“Jinki hyung! Waah, selamat ya! Tadi kau hebat sekali di lapangan.” Ucap Taemin riang.
Jinki mengelak, “Tidak. Anak-anak kelas satu yang hebat. Minho lah yang sangat menonjol di pertandingan tadi. Harusnya kau memberi selamat padanya, dia lebih pantas mendapatkannya.”
Taemin mengerucutkan bibirnya dan memasang muka sok serius, “Tapi kalau tidak ada kapten hebat seperti hyung, pasti kesebelasan kita tidak bisa bermain bagus.”
Jinki tertawa melihat wajah Taemin yang menurutnya sangat lucu. Taemin memang sangat manis, walau ia namja sekalipun tetapi semua laki-laki yang melihatnya tidak akan menyangkal bahwa wajah yang dimiliki Taemin sangat manis seperti yeoja, bahkan mungkin lebih untuk sebagian orang.
“Baiklah. Terima kasih pujiannya. Dan…ini adalah pertandingan terakhirku karena semester depan aku akan naik ke kelas tiga. Tidak mungkin bisa terus bermain.”
Taemin baru menyadarinya. “Wah, iya yah aku baru ingat…, Waktu cepat sekali berlalu, ne?”
“Ya..” entah kenapa nada suara Jinki terdengar sedih. Tiba-tiba ia mengulurkan tangannya di depan Taemin.
“Eoh?”
“Ini untuk ucapan selamat karena kau telah menjadi manajer yang sangat baik. Kau sungguh hebat dan penuh perhatian.” Ucap Jinki tersenyum lembut.
Wajah Taemin terasa panas. Di puji langsung seperti ini, tidak pernah ia prediksikan. “I-itu kan sudah tugasku. Biasa saja…tidak ada yang baik yang telah kulakukan untuk klub.” Ucap Taemin merendah.
“Siapa bilang kau tidak melakukan apa-apa untuk klub, eoh? Kau selalu memberi semangat dengan tulus pada anggota klub. Melihatmu bersemangat seperti itu, kami menjadi malu kalau berlatih seenaknya. Semangat dan teriakanmu selalu menjadi pemicu kami semua. Tidak ingin membuat semangatmu menjadi sia-sia, kami pun berlatih dengan sungguh-sungguh. Itu semua berkatmu, Taemin-ah…”
BLUSH
Taemin memegang pipinya dengan kedua tangannya, merasakan panas yang semakin lama mendidih di pipinya yang tidak dipungkiri kini berubah warna menjadi merah muda. “Bu-bukannya terbalik? Semangat kalian di lapangan yang membuatku ikut semangat untuk memberi dukungan. Karena hanya itu yang bisa kulakukan, eum?”
“Anii. Ini penilaian pribadi dari Choi Jinki. Bukan dari kapten sepak bola sekolah kita.”
Akhirnya Taemin menyambut uluran tangan Jinki sambil tertawa, “Terima kasih pujiannya, hyung. Waahh, aku jadi besar kepala mendengarnya. Hehe..” kekeh Taemin.
Jinki tersenyum melihat tawa Taemin yang terdengar riang. Ini baru Taemin yang ia kenal. Riang dan juga cerewet, ceria.
Mereka mengangkat keranjang bersama. Ruang klub sudah mulai sepi. Hanya tinggal beberapa anak yang masih membereskan loker.
“Taemin, aku pulang dulu, ya.” Ucap salah seorang anggota.
“Ne. Jangan lupa besok sore kita berkumpul untuk evaluasi.” Sahut Taemin dan mendapat acungan jempol sebagai tanda mengerti, “Oh ya, keranjangnya taruh di sini saja.” Ucap Taemin pada Jinki. “Kau pulang duluan saja, hyung. Aku masih harus beres-beres.”
Jinki mengangguk, “Tapi sebelumnya aku mau ke ruang guru dulu. Bye Taemin…terima kasih hari ini.”
“Iya hyung. Istirahat yang cukup, ne~”
Setelah Jinki pamit pergi, Taemin pun memulai ritual bersih-bersih ruangan klub. Setelah selesai, ia pun mengecek loker-loker apa sudah terkunci semua atau belum. Dan yah, tanpa ia duga ada satu loker yang kuncinya masih menggantung dipintu. Loker Minho!
“Mi-Minho? Tidak mungkin dia belum pulang, kan? Tadi Tiffanny jelas-jelas menunggunya di gerbang. Apa Minho lupa? Ck, dasar ceroboh.” Gumam Taemin lalu mengambil kunci loker Minho. Memandang sedih loker tersebut karena ia tidak bisa membohongi perasaannya saat ini. Ia merasa ditinggalkan sendirian oleh tuan pemilik loker dihadapannya.
“Huks…”
“Taemin?”
Taemin terlonjak kaget. Sehingga menjatuhkan kunci di genggamannya.
Jinki!
“Ada apa? Kau…menangis?”
“Anii…aku hanya kelilipan.” Sahut Taemin sambil mengucek matanya. “Nah, hyung belum pulang?”
Jinki terdiam sambil menunduk.
“Hyung?”
“Taemin, kau benar.”
Taemin hanya mengerutkan dahinya bingung. Benar?
“Yah, kau benar. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Tidak terasa aku akan segera naik ke kelas tiga, lalu kemudian lulus. Dan…dan aku…takut tidak mempunyai waktu lagi. Aku harus menyelesaikannya sekarang juga.” Jelas Jinki menatap Taemin yang kebingungan mendengarnya.
Taemin berpikir sejenak. Menyelesaikan apa? Evaluasi?? “Hmm…tapi evaluasinya baru akan kita lakukan besok, kan?”
Jinki menggeleng, “Bukan itu.”
“Lalu?”
Tiba-tiba Jinki meraih tangan Taemin dan menggenggamnya, “Aku…menyukaimu, Taemin.” Jujur Jinki to the point.
O_O
Taemin terdiam bingung. Baru saja…Jinki menyatakan suka padanya? Apa…dia tidak salah dengar?
“Apa kau tahu, Taemin. Saat kau sakit kemarin, semua baru sadar. Semua merasa kehilanganmu. Sehari itu kami tidak berlatih, hanya duduk-duduk sambil mengatur strategi untuk pertandingan tadi. Dengan jujur kami mengaku kehilanganmu.”
Taemin masih tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, otaknya masih terus mencerna perkataan jinki. Tetapi ia tidak memungkiri perasaan hangat yang kini menyelimuti hatinya. Dirinya yang biasanya kasar, dan tentu saja jauh dari kata lembut, ternyata memiliki arti dan dapat di kenang oleh teman-temannya. Terutama…apa Minho juga merasa kehilangannya? Hatinya kembali terasa perih.
“Dan aku….. aku juga mengalami itu. Aku…merasa ada yang hilang dari sisiku. Aku merasa… aku… merindukanmu. Oleh karena itu aku datang menjengukmu. Begitu melihat wajahmu yang sangat pucat, aku merasa sangat khawatir, Taemin…aku…benar-benar menyukaimu. Bahkan sejak pertama kali aku melihatmu.”
Taemin terbelalak kaget. Benarkah? Apa yang ia dengar itu sebuah kenyataan? Jinki hyung menyukainya??
“Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku ingin kau memikirkannya secara baik-baik dan aku tidak memaksanya. Apa pun keputusanmu, aku akan menerima. Tapi aku mohon, jangan jawab sekarang. Tolong pikirkan baik-baik, ne…?”
Tanpa menunggu lagi, air mata Taemin telah jatuh membasahi kedua pipinya. Bukan karena ia terharu karena ada yang menyukainya, bukan karena ia sedih karena bukan Minho yang mengatakan ini. Tapi…ia merasa bingung. Haruskah ia menolak Jinki yang sudah sangat baik dengannya? Sosok Jinki yang hangat, ramah, pengertian seperti sosok di depannya, harus ia sakiti dengan menolaknya?
Tapi hatinya tidak bisa berbohong lagi. Walau cinta Minho bukan untuknya, tapi hatinya telah terkunci untuk orang lain. Ia tidak mau menyakiti siapa pun itu terlebih orang yang luar biasa seperti Jinki.
Aku tidak bisa mengingkari loker di dalam hatiku yang kini telah tekunci rapat….
“Hyung…aku…..huks, mian… aku….”
“Sssh, uljima Taemin-ah. Aku tahu, kau adalah orang yang selalu berpikir dua-tiga kali dalam mengambil keputusan. Oleh sebab itu aku memberimu waktu agar kau dapat berpikir lebih baik dan tidak tergesa-gesa. Jadi kumohon, jangan jawab sekarang….”
Taemin terdiam.
Jinki mengeluarkan sapu tangannya dan menghapus air mata Taemin dengan lembut. Taemin tidak menolaknya, karena ia merasa semakin jahat kalau harus menepis tangan hangat itu.
“Mau pulang?” tanya Jinki setelah melihat Taemin sudah lebih tenang dan air mata tak lagi membasahi wajahnya, “Kita pulang sama-sama, bagaimana?”
Tapi Taemin menggeleng. Dia belum siap untuk berada di samping Jinki, dan ia perlu waktu sendiri untuk berpikir. “Maaf hyung, aku belum mencuci handuk-handuk kotor kalian. Aku mau ke ruang laundry dulu.”
Jinki menghela napas, mengerti maksud Taemin dan sama sekali tidak ingin memaksa namja cantik itu, “Oke, baiklah sampai jumpa besok saat evaluasi, ne? Aku pulang dulu.”
“Ne…”balas Taemin.
Jinki membuka pintu dan keluar, tetapi saat akan menutupnya, ia menyembulkan kembali kepalanya melongok ke dalam. “Jangan pulang terlalu malam, Taemin-ah…”
Taemin melihat Jinki dan mengangguk, “Ne, hyung..”
Pintu ruangan pun ditutup. Sinar bulan menerobos jendela klub yang tak bertirai. Taemin masih terdiam, segala pikiran tentang dirinya, Jinki, Tiffanny, dan… Minho, terus berputar di benaknya. Tanpa terasa air matanya pun kembali keluar bahkan semakin lama semakin deras.
Braak!
Pintu mendadak terbuka dan Taemin terlonjak kaget.
“T-Taemin…? Belum pulang?” tanya Minho yang masuk tergesa-gesa.
“Belum.” Jawab Taemin sambil memunggungi Minho agar namja itu tidak melihatnya menangis.
“Taemin, kau tahu kunci lokerku?” tanya Minho lagi.
Kunci itu masih berada di lantai di dekat kaki Taemin. Taemin memungutnya dan dengan cepat menghapus air matanya
“Ini.” Ucapnya sambil menyerahkan kunci itu, tanpa mau menatap wajah Minho karena ia tahu wajahnya kini terlihat sangat kusut dan terlebih air mata bodoh itu baru saja membasahi pipinya.
Minho menerimanya sambil memandang Taemin penuh selidik, “Kau kenapa?”
Oh gosh! Apa mataku masih terlihat merah? Atau sisa air mata masih membekas jelas di wajahku?
“Eh, itu…dari tadi aku membersihkan ruangan ini. Mataku kemasukan debu. Hehehe….”
“Tawamu sumbang, Taemin. Kau bohong padaku.”
Taemin terdiam sejenak. “Kau sendiri belum pulang? Tadi kulihat Tiffanny menunggumu di gerbang. Kasihan kalau ia harus menunggu lama.”
Minho menatap Taemin tajam. “Ada yang tertinggal di loker.”
“Kan bisa diambil besok. Kau sama sekali tidak berperasaan kalau membuat wanita harus menunggu lama. Dan ini sudah malam Minho, bagaimana kalau Tiffanny hilang? Nanti kau menyesal.”
Minho berdecak.
“Dia itu sudah besar. Kau cerewet sekali, memang kau ibunya?!” decak Minho kesal. Sedari tadi, anii, semenjak Taemin sakit beberapa hari lalu, Taemin terus saja mengungkit Tiffanny kalau sedang bersamanya.
“Anii. Aku hanya kasihan padanya. Hei Minho, bukankah kau tahu arti dibalik perhatiannya selama ini padamu? Kau bodoh kalau sampai tidak tahu!” sindir Taemin bersidekap.
Ya Taemin! Apa yang kau lakukan, huh? Kalau begini sama saja kau menjembatani hubungan mereka, kan?!
Minho kembali diam tampak berpikir. Wajahnya sangat serius sampai-sampai dahinya berkerut.
“Maksudmu?”

“Heeii, jangan bilang kau tidak tahu Tiffanny menyukaimu?! Kau tega sekali Minho!” Taemin mendorong dada Minho dengan telunjuknya.
Bagus! Teruslah ikut campur, dan kau akan terpuruk nantinya!
Minho diam saja, membuat Taemin kehilangan kata-kata.
“Jinki hyung tadi ke sini?” tanya Minho tiba-tiba.
Taemin tersentak kaget. Napasnya serasa terhenti dan jantungnya berdebar cepat, ‘Apa Minho tahu?’ , pikirnya.
“Ne…”
“Untuk apa?” selidik Minho.
“Hei, kenapa kau bertanya seolah menuduhku melakukan kesalahan, huh? Dia hanya memberi selamat padaku karena dia bilang aku manajer yang baik. Tentu saja aku senang.” Kata Taemin ceria.
“Ooh…jadi saking senangnya kau sampai menangis?” tanya Minho dengan nada sedikit sinis.
“Memangnya kenapa?! Aku kan terharu! Jinki hyung pria yang sangat baik.”
“Baru begitu saja sampai menangis. Dasar cengeng.”
“Anii!”
“Oh, atau jangan-jangan Jinki hyung menyatakan suka padamu?”
DEG!
Wajah Taemin terlihat kaget dan ia sama sekali tidak berani menatap Minho.
“Benar?”
“I-itu…”
Minho berdecak melihat tingkah gugup Taemin, “Kau pasti senang akhirnya ada orang yang mau menyukai namja cerewet sepertimu, kan? Kau terharu ya, ada yang memberikan perhatian lebih?”
Taemin mendongak menatap Minho tak percaya. Ia tidak menyangka Minho akan mengatakan kata-kata seperti itu. Walau mereka memang tidak pernah akur dan saling meledek, tapi Minho sebelumnya tidak pernah mengatakan hal yang sangat menyakitkan seperti itu.
“Entahlah harusnya kau bersyukur atau…”
Plaaakk
Kata-kata Minho benar-benar keterlaluan. Tanpa sempat mencegahnya, tangan Taemin melayang menampar wajah Minho.
Minho terkejut. Begitu juga dengan Taemin. Ia sama sekali tidak menyangka tangannya bisa melayang seperti itu. Darimana ia mendapat kekuatan seperti itu?!
Taemin semakin merasa bersalah dan ia tidak menampik perkataan Minho bahwa dirinya memang kasar.
“Mi-Minho! Maafkan aku! Aku benar-benar minta maaf.” Taemin langsung membungkukkan badannya dalam-dalam.
Tapi Minho hanya terdiam mengelus pipinya yang tadi terkena tamparan Taemin.
“Maafkan aku Minho. Kau benar. Aku memang kasar.” Ucap Taemin hampir menangis. Ia benar-benar merasa bersalah, “Maafkan aku!” dan segera berlari meninggalkan Minho, keluar dari ruangan. Taemin sedikit berharap Minho akan mengejarnya atau paling tidak memanggilnya. Tetapi Minho tetap diam.
Taemin membanting pintu dengan kasar hingga menutup. Dan, hampir saja ia terjatuh karena tersandung benda besar di sebelah pintu. Tas Minho!
Taemin langsung tersadar, kalau tas itu ada pada Minho, berarti ia menolak pulang dengan Tiffanny? Atau ia sudah mengantar Tiffanny pulang lalu kembali lagi ke sekolah? Atau jangan-jangan Tiffanny ikut dengan Minho ke ruang klub dan melihatnya menampar Minho?, pikiran Taemin kalut.
.
.
.
.
Malam itu Taemin tidak bisa tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, yang terbayang adalah segala peristiwa yang terjadi hari ini. Mulai dari pertandingan sepak bola yang sangat menawan, Jinki hyung yang menyatakan perasaannya padanya, dan juga…saat tangan bodohnya melayang menampar pipi Minho yang membuat namja itu terdiam seribu bahasa.
Taemin memandang tangannya, ia bahkan masih merasakan panas dari kulit Minho saat tangannya itu menyentuh pipi Minho. Lagi-lagi ia merasa bersalah. Mungkin besok ia akan menyerahkan pipinya untuk di pukul oleh Minho agar impas. Yahh…begitu lebih baik.
Lalu Taemin kembali teringat dengan Jinki. Apa yang harus ia lakukan? Jinki memang sangat baik dan juga tampan. Dia lembut, penyabar, dewasa, pengertian….tapi entah kenapa Taemin tidak bisa menyambut perasaan itu. Karena hatinya yang lebih tahu. Hatinya telah menjatuhkan pilihannya pada orang lain. Bukan Jinki.
“Huks, eottokhe…?” bisik Taemin pada sunyinya malam.
Pikirannya melayang ke masa lalu.
Flash back…..
Siang itu Taemin dan Minho tengah duduk di bawah pohon di pinggir lapangan. Menunggu giliran Minho turun ke pertandingan.
“Jinki hyung sangat menarik yah! Badannya tinggi, putih, tampan, dan juga jago bermain sepak bola. Penggemarnya pasti banyak, ne?” puji Taemin.
Minho langsung menyenggol kaki Taemin, ‘sedikit’ menendangnya.
“Mwooo?!”
“Kau itu tega sekali, anak ayam! Masa sedang duduk bersamaku, yang kau bicarakan malah hyungku. Memuji-muji segala.” Cibir Minho.
Taemin tertawa, “Aku kan jujur. Aku mengatakan yang sebenarnya!” ucapnya riang.
Minho berdecak, “Cih, aku baru tahu kalau kau orang yang jujur.”
DEG
Taemin merasa panas di pipinya. Apa Minho tahu bahwa….ia menyembunyikan perasaan terhadap dirinya??
“Yah, aku jujur kalau memang perlu untuk jujur.”
Dan Taemin merasakan pandangan Minho yang tertuju padanya. Memandang lekat padanya yang lebih memilih melihat kepangkuannya sendiri. Tidak bisa membalas tatapan mata besar di sampingnya.
“Minho~~ jangan memandangku begitu. Matamu seram!” Taemin menutup wajah Minho dengan handuk kuning miliknya.
…………
Sepulang sekolah hari itu sangat terik. Ketiga namja itu baru saja selesai kegiatan klub dan memutuskan pulang bersama. Membuat yang melihatnya sangat iri dengan kedekatan mereka. Jinki dan Minho sangatlah populer, sedangkan Taemin memang dikenal sebagai sosok yang pintar dan humble. Jadi…melihat mereka bertiga bersama, sungguh pemandangan yang sangat indah.
“Oh ya, tadi pagi aku membuat puding dan menaruhnya di kulkas. Pasti sekarang sudah dingin! Ayo kau ke rumah kami saja dan makan bersama?!” ucap Jinki menawari.
“Benarkah? Boleh hyung?”
“Tentu!” jawab Jinki lagi sambil tersenyum.
“Jatahku akan berkurang kalau monster ini ikut, hyung….” Canda Minho sambil mengacak rambut Taemin.
“Ya! Enak saja!” pekik Taemin tidak terima.
Jinki hanya tertawa melihat kedua ‘adik’ nya yang kini tengah adu mulut
Begitulah sepanjang perjalanan tidak bisa tidak meributkan hal sekecil apapun. Masalah sepele menjadi besar jika keduanya sudah berbicara. Jinki tidak ambil pusing, karena ia tahu keduanya tidak bersungguh-sungguh.
Sesampainya di rumah Jinki-Minho…..
“Taemin, kau duduk saja dulu. Minho, kau temani Taemin, ya.” Ucap Jinki seraya menghilang di balik pintu dapur.
Tak lama ia kembali membawa pemanggang kecil dan juga daging serta sayuran. “Kita sekalian makan malam saja. Kita buat barbeque.” Usul Jinki.
Taemin dan Minho bertepuk tangan riang lalu membantu Jinki menyiapkan barbeque.
“Lain kali kalian juga harus makan di rumahku, ya. Aku akan meminta pada umma untuk membuatkan sup miso. Sup buatan ummaku sangat enak!” ucap Taemin mempromosikan. Minho dengan senang menyetujuinya.
“Jinjja?! Waah, dulu umma juga sangat pandai membuat sup miso, iya kan hyung? Mungkin kalau aku makan buatan umma-mu, rasa kangenku pada umma bisa sedikit terobati. Hehehe…”tawa Minho.
Taemin memandang Minho sedih. Yah, benar. Umma Minho telah meninggal dan ia masih bisa menjadi sosok yang ceria seperti sekarang. Merasakan suasana yang sedikit terasa sendu, Jinki menetralisir keadaan dengan mengeluarkan puding yang tadi ia ceritakan dan segera menghidangkannya pada Taemin dan Minho.
“Silahkan dicoba, Tae.”
“Ini puding apa?” tanya Taemin semangat.
Jinki memandang Taemin sambil berpikir, “Waah, aku sendiri tidak tahu.  Hmm…sebaiknya dinamakan apa, ya? Ini resep buatanku sendiri. Rasanya manis dan segar. Oh! Bagaimana kalau dinamakan puding Taemin? Puding ini seperti dirimu, Tae…manis dan segar.” Ucap Jinki ramah.
End Flash back…
Kata-kata Jinki itu kembali terngiang di benak Taemin, ‘Manis dan segar…’ Omo, Jinki hyung memang orang yang sangat baik…. , pikir Taemin sambil tersenyum dan berhasil mengantarkannya ke alam mimpi………

.
.
.
.

[2Min] Time Out /Yaoi/2 of 4

Cast : Lee Taemin, Choi Minho, (Lee) Choi Jinki, Kim Kibum, Tiffanny
Genre : School life, fluff, romance


NO PLAGIARISM!
NO BASH!
 [shared-writting by: http://suunsanniiew.wordpress.com ]
[re-shared by: this blog ^^]
Original Story By : Akino Yoko
Edit by : Kei Love Taemin
Credit Pic by: Page Boy
.
.
.
Author POV
Hari ini di kelas Taemin dan Minho kedatangan murid baru. Namanya Tiffanny. Ketika yeoja itu berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan diri, semua anak serentak menahan napas melihat wajah cantiknya. Yah, Tiffanny sangat cantik. Rambutnya panjang berkilau, matanya bulat, kulitnya putih dan tubuhnya langsing semampai. Kecantikan itu semakin sempurna ketika Tiffanny memulai perkenalan. Jelas kelihatan bahwa dia ramah dan mudah bergaul. Dengan ringan dia menjawab semua pertanyaan yang diajukan teman-teman. Sampai akhirnya songsaenim merasa perkenalan sudah cukup, dan meminta Tiffanny untuk duduk dibelakang. Tepat di belakang meja Taemin. Itu memang satu-satunya meja yang tidak berpenghuni.
Tiffanny tersenyum, berjalan mendekati bangku yang ditunjuk songsaenim untuknya, dan jelas ia tepat berjalan ke arah Taemin. Tiba-tiba saja Minho mengangkat tangan dan berkata, “Park Sam, kalau boleh, biar Tiffanny yang duduk dengan Taemin. Saya saja yang pindah ke belakang.”
Taemin terkejut mendengarnya. MWO YA?!!
Anak-anak tertawa lirih.
“Minho memang baik, ya.”
“Hebat. Kau memang lelaki sejati, Minho.”
Ha ha ha….Tawa anak-anak semakin keras.
Apa-apaan mereka? Lelaki sejati? Memang kalian pikir aku bukan laki-laki sejati, eoh?! –batin Taemin kesal.
Sambil terkekeh, Minho mengangkat tas dan bukunya lalu pindah ke bangku belakang.
Kau tahu…aku merasa sesuatu terasa menghilang dari hatiku…..
            Walau Minho tetap duduk di bangku belakang, tepat di belakang Taemin, tapi Taemin merasa lain. Selama beberapa bulan, setiap pagi hingga usai sekolah, dia dan Minho duduk bersebelahan. Tiba-tiba saja mata Taemin terasa panas. Ia merasa ditinggalkan, sendirian.
“Selamat tinggal, Taemin. Jangan menangis, ya. Aku masih disini, di belakangmu.”
Suara Minho yang berbisik menggoda justru semakin membuat Taemin sedih. Tetapi tentu saja ia tidak akan pernah mau memperlihatkan kesedihan itu di depan Minho.
“Eh, maaf ya. Aku membuat kalian berpisah.” Suara Tiffanny yang penuh penyesalan menyadarkan lamunan Taemin.
Ck, betapa egoisnya aku. Kalau Tiffanny duduk sendirian di belakang pasti ia akan kesepian. –pikir Taemin.
“Oh, gwenchana…” kata Taemin berusaha tersenyum. Dia melirik Minho, “Kedatanganmu malah membuatku terbebas. Bebas dari gangguannya. Dia iseng sekali.”
“Oh, ya? Tapi kelihatannya dia orang yang baik.”
“Anii. Kau belum saja mengenalnya. Kalau sudah kenal, wah…rambutmu yang panjang pasti jadi sasaran. Dia suka menjambak, kau tahu.”
“Hah?! Wah kalau begitu, besok kuikat saja.” Tiffanny pura-pura ketakutan.
Taemin dan Tiffanny tertawa berdua.
“Hei, kalian bicara apa?! Kenapa melirikku segala, eoh? Pasti si anak ayam ini bercerita yang jelek-jelek tentangku. Ya kan, anak ayam?!” hardik Minho dengan suara bass-nya.
Taemin mencibir. “Buat apa aku membicarakanmu?! Untung kau pindah ke belakang. Aku cuma minta agar Tiffanny berhai-hati padamu.”
“Jangan percaya dia, Tiffanny. Walau si anak ayam ini ketua kelas, tapi dia itu suka berbohong.”
“Minho!”
Suara songsaenim membuat Minho terdiam. “Ada yang ingin kau tanyakan? Dari tadi matamu selalu memandang Tiffanny.”
“E-e…itu…anii…” jawab Minho gugup.
Anak-anak tertawa. Park Sam juga ikut tertawa. Minho jadi salah tingkah, dan Tiffanny hanya tersenyum.
Pulang sekolah, Tiffanny mengajak Taemin untuk mampir ke apartemennya.
“Kami baru pindah tiga hari yang lalu. Aku sudah berjanji pada Mama untuk mengajak teman pertama yang kukenal berkunjung ke rumah untuk berkenalan dengannya. Dan orang itu adalah kau, Taemin. Walau kau namja, tapi aku sangat nyaman denganmu.”
Taemin tersenyum mendengarnya.
“Oya, kenapa Minho memanggilmu dengan sebutan ‘anak ayam’? Sepertinya…hanya dia yang memanggilmu begitu?”
Taemin mengangguk sambil menghela napasnya, “Minho memang suka seenaknya. Dia bilang aku ini bawel seperti anak ayam.”
Hahahaha, Tiffanny tertawa terbahak mendengarnya.
Apartemen Tiffanny termasuk apartemen kelas atas. Letaknya agak di tengah jalan besar. Ruangannya berada di lantai 3, mereka pun langsung masuk ke sana.
“Wah, disini nyaman sekali.” Ucap Taemin sambil memandang sekitar.
“Kami tidak sempat melihat-lihat apartemen lain. Begitu mendapatkan apartemen yang cukup dekat dengan sekolah, Mama langsung setuju.”
Seorang wanita mungil membukakan pintu. Sepintas wajahnya sangat mirip dengan Tiffanny.
“Annyeong haseyo.” Sapa Taemin.
“Oh, annyeong haseyo.” Jawab wanita itu.
Dengan ramah wanita itu mempersilahkan masuk.
“Mama, ini Taemin. Dia teman sebangku-ku dan juga ketua kelas.” Ucap Tiffanny saat mereka duduk di ruang tamu.
“Wah beruntung sekali Tiffanny bisa duduk dengan ketua kelas. Kalau ada kesulitan bisa langsung bertanya.”
Taemin sedikit risih mendengarnya, “Ah, tidak begitu. Justru saya sering dianggap galak oleh teman-teman. Soalnya saya suka menghardik murid-murid yang malas piket siang. Terutama anak laki-laki.”
Mama Tiffanny tertawa, “Ah, zaman belum berubah. Anak laki-laki selalu saja malas memegang sapu. Kalau ada kesempatan kabur, mereka pasti akan melakukannya.”
Taemin terkekeh, “Tapi Ahjumma, saya tidak begitu. Hehehe”
“Ah benar! Hahaha, maksud Ahjumma, kebanyakan laki-laki seperti itu. Aduuh, bukan maksudnya untuk menyindir.”
Taemin mengangguk dan tersenyum.
Tak lama kemudian Tiffanny keluar sambil membawa dua gelas jus jeruk. “Mama dulu pernah jadi ketua kelas, Taemin. Makanya Mama tahu repotnya jadi ketua kelas.”
“Oh ya?”
Di atas meja kecil tampak foto keluarga, Tiffanny kecil benar-benar sangat cantik. Tidak jauh berbeda dengan yang sekarang. Dia diapit oleh kedua orang tuanya. Papa Tiffanny berkebangsaan Perancis. Oleh karena itu, wajah Tiffanny berwajah campuran. Hidung, mata dan rambut Tiffanny seperti Papanya. Tapi mulut dan bentuk wajahnya mirip dengan Mamanya.
Mereka tinggal di Perancis selama empat tahun. Dan sekarang Papa Tiffanny ditugaskan ke Seoul, entah untuk berapa lama.
Sejak itu, Taemin dan Tiffanny bersahabat. Menurut Taemin, Tiffanny adalah teman yang menyenangkan. Tiffanny selalu tertawa, dan Taemin merasa sangat cocok dengannya. Walau mereka tetap saja seorang namja dan yeoja. Seolah perbedaan gender itu bukan merupakan penghalang berarti. Tiffanny bebas dan nyaman-nyaman saja bercerita mengenai hal pribadinya pada Taemin, begitu juga sebaliknya. Walau Taemin lebih menjadi sosok yang mendengarkan.
Tiap kali berjalan bersama Tiffanny, Taemin merasa mereka menjadi pusat perhatian. Dan itu sangat tidak nyaman. Berkali-kali orang bertanya apa mereka berpacaran? Terlebih wajah Tiffanny yang bagai magnet menyedot perhatian warga sekolah tiap kali ia berjalan. Tapi lama-kelamaan Taemin pun terbiasa, dan orang-orang pun akhirnya mengerti bahwa mereka hanya sekedar bersahabat.
“Taemin, punya plester? Tanganku tergores duri…” panggil Minho.
Taemin berbalik, dan ia melihat jari Minho yang berdarah.
Tiffanny ikut menoleh, “Ah! Darah! Aku takut melihat darah!”
Tiffanny menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Taemin segera menyuruh Minho menutup lukanya dengan plester yang ia beri. Lalu Taemin menepuk-nepuk pundak Tiffanny, menenangkannya.
“Hei, sudah. Lukanya sudah ditutup.”
Pelan-pelan Tiffanny membuka tangannya. Wajahnya tampak ketakutan.
“Hei, aku dengar orang yang takut darah itu perasaannya lembut, ya?” celetuk Minho sambil bertopang dagu. Entah ia berbicara pada siapa. Matanya kosong menatap keluar jendela.
Dan tiba-tiba dadaku terasa sesak….
“Yah, aku memang tidak tahan melihat darah.” Kata Tiffanny.
Minho melirik keduanya. Tangannya masih menopang kepalanya, “Nah, itu baru namanya yeoja sempurna. Tidak seperti yeoja jejadian galak yang mirip anak ayam seperti…hmm…siapa ya…??”
Taemin tersentak menatap Minho. Ia serasa seperti disengat lebah mendengar perkataan Minho. Dia tidak marah, hanya saja…hanya saja kenapa seolah hatinya…sakit?
“Apa…apa sebenarnya kau tidak menyukaiku? Apa itu alasanmu pindah tempat duduk, Minho?”
Minho melirik Taemin yang tengah menatapnya, “Ya, Taemin! Kalau saja kau bisa lebih lembut pasti….”
Apa Minho? Pasti….?
            “Pasti dunia kiamat! Hahahahaha!”
Errrgh! Menyebalkaaaaann!!!
“Hey, Minho, jangan begitu. Taemin itu bukan galak atau kasar, tapi dia memang harus tegas menghadapi anak-anak kelas yang dipimpinnya. Karena jadi ketua kelas itu bukan pekerjaan mudah, iya, kan Taemin?” kata Tiffanny membela.
“Aku sebenarnya lembut seperti salju yang pertama turun di musim dingin. Hanya saja…untuk menghadapi anak-anak yang suka iseng seperti bekas teman sebangkuku, aku terpaksa memegang sapu untuk memukul pantatnya.”
“Ya! Kau kira aku ini anak kecil sampai dibawakan sapu segala? Aku bukan orang iseng, tahu.” Ucap Minho membela diri. “Kalau kau membawa sapu sih memang pantas. Kau memang mirip nenek sihir! Hahaha…”
Taemin pura-pura tidak mendengar. “Oya, Tiffanny. Kau pasti senang kalau berkenalan dengan kakak-nya Minho. Orangnya ramah, tetapi tegas kalau di lapangan. Dia juga tampan.” Kata Taemin sambil mengacungkan dua jempolnya.
Minho langsung berhenti tertawa, dan menatap Taemin tajam. Taemin sadar itu tapi ia memilih pura-pura tidak tahu.
Mata Tiffanny terbelalak. “Oh ya? Kapan-kapan ajak aku melihat latihan, ya? Aku jadi penasaran, Taemiiinn (>///<)” histeris Tiffanny sambil meremas-remas tangan Taemin.
Minho masih memandang Taemin tajam, dan Taemin jadi merasa bersalah. Dengan ragu ia pun menyahut, “Ehm, boleh…”
“Kenapa kau terlihat ragu, Taemin? Tidak boleh, yaaa….” rengek Tiffanny.
“Bu-bukan begitu. Aku hanya berpikir, selama ini mereka berlatih hanya dilihat teman-teman se-klub atau mereka yang suka menonton bola. Kalau Tiffanny datang, aku khawatir mereka nanti tidak jadi berlatih. Malah lebih suka mengobrol denganmu…”
Tiffanny tertawa, “Taemin, bisa saja. Tetapi sekali-sekali aku ingin melihat latihan sepak bola. Walau aku tidak tahu tentang sepak bola, tapi aku ingin melihatnya secara langsung dari dekat. Boleh, kan?”
Akhirnya Taemin mengangguk dan tersenyum, “Boleh saja.”
“Minho juga ikut klub sepak bola, kan?” Tanya Tiffanny.
Minho hanya menjawab dengan anggukan singkat.
“Dia nanti ikut turun pada pertandingan antar sekolah. Tendangannya memang hebat, sehebat tendangan kerikilnya.”
“Kerikil?” tanya Tiffanny.
“Ah, jangan pedulikan omongannya. Kalau ingin melihat latihan kami, boleh kok. Semangatku pasti langsung berlipat-lipat kalau kamu datang.” Minho mengatakannya sambil tersenyum lebar.
Taemin menahan napas.
“Jadi boleh, ya? Aku juga ingin melihat Minho berlatih.” Ucap Tiffanny senang.
Taemin merasakan dadanya tiba-tiba sesak, ntah karena apa dia pun tidak mengerti. Dan akhirnya Taemin mengangguk, “Boleh. Nanti sore, ya.”
.
.
.
.
Sore itu Tiffanny dan Taemin berjalan bersama menuju tempat latihan. Dengan riang yeoja cantik itu melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah yang panjang. Taemin sudah mengira kalau anak-anak pasti akan tercengang melihat kedatangan Tiffanny.
Benar saja. Ketika Tiffanny masuk ke ruang klub, semua anak menatap heran dan juga bingung. Semula Taemin mengira bahwa semua akan bersorak riuh seperti saat berhasil memasukkan bola ke gawang lawan, namun kali ini sambutannya benar-benar di luar dugaan. Anak-anak yang selalu mempunyai cadangan energi bila di lapangan, sekarang lain. Mereka hanya terdiam sambil melongo melihat kedatangan Tiffanny.
Bahkan beberapa anak yang sedang memakai kaus jadi terpaku karenanya. Gerakan tangan mereka yang sedang memasukkan kaus jadi terhenti di udara. Mereka seperti patung-patung di museum lilin.
“Hai,” sapa Tiffanny riang.
Tidak ada yang menyahut. Seakan mereka sedang berada di batas mimpi dan kenyataan.
“Ya! Disapa Tiffanny kenapa kalian malah diam saja, eoh?!” ucap Taemin ketus. “Tidak sopan.”
Setelah Taemin berkata begitu, kesadaran mereka langsung pulih. Anak-anak berebut menyalami Tiffanny. Hanya Jinki yang tetap tenang. Dia menoleh sekilas lalu kembali menalikan sepatunya.
“Tiffanny,” panggil Taemin setelah histeria itu mereda. “Kenalkan. Ini Jinki hyung yang kuceritakan tadi.”
Jinki segera berdiri, lalu mengangguk.
“Taemin bilang, Jinki oppa kapten tim sepak bola sekolah kita. Senang sekali bisa berkenalan dengan oppa.” Kata Tiffanny ramah.
Jinki jadi salah tingkah, dia hanya bergumam lirih dan itu membuat Taemin tertawa melihat gelagatnya yang lucu.
Anak-anak yang lain sebenarnya masih ingin bercakap-cakap dengan Tiffanny. Tetapi Jinki sudah memberi isyarat untuk segera turun ke lapangan.
“Ya! Kenapa buru-buru?! Bukannya masih 15 menit lagi?”
“Kenapa cepat sekali?!”
“Nanti Tiffanny ke lapangan, kan?”
Entah siapa yang berteriak begitu. Karena keadaan benar-benar ramai.
Tiffanny mengangguk riang, “Pasti. Aku ingin melihat permainan kalian.”
Anak-anak bersorak riuh sambil berlari ke lapangan.
“Taemin, kami duluan ke lapangan, ya.”
“Ya, kalian duluan saja. Aku masih harus membereskan ruangan. Nanti kususul.” Kata Taemin. Terbayang isi ruangan yang berantakan ditinggal sekumpulan anak-anak itu.
“Kalau begitu kubantu, ya,” kata Tiffanny.
“Tidak perlu, terima kasih. Ini tugasku. Kau pasti tidak akan tahan mencium bau keringat mereka.” Canda Taemin.
“Hmm…oya, tadi Minho kemana? Aku ingin melihatnya berlatih. Kenapa sekarang belum muncul?” kata Tiffanny benar-benar terlihat kecewa.
Taemin pun terdiam membenarkan. Minho…eodiseo?

TAEMIN POV
Tiba-tiba saja aku merasa sedih. Seperti perasaan yang kualami ketika Minho pindah ke bangku belakang. Ada sesuatu yang seakan hilang.
“Sebentar lagi pasti muncul. Minho belum pernah absen selama ini.” Kataku menenangkan Tiffanny yang tampak khawatir.
Tiffanny pun akhirnya mengangguk, “Baiklah, akan kutunggu di lapangan kalau begitu. Taemin, aku duluan ya?” ucap Tiffanny sambil berjalan ke lapangan.
“Ne, nanti aku menyusul.” Jawabku sambil berbalik kembali ke ruangan. Minho kemana, ya? Batinku khawatir. Dia tadi bersemangat sekali sewaktu Tiffanny mengatakan akan menonon latihan. Tapi kenapa sampai sekarang batang hidung jeleknya itu belum juga muncul?? -_-
Aku terbelalak begitu sadar dengan keadaan ruangan yang benar-benar kacau berantakan. Rupanya mereka terlalu bersemangat mengajak Tiffanny berkenalan, sehingga melempar seragam mereka begitu saja. Ck, dasar!
Satu per satu kuatur seragam yang berserakan ke loker masing-masing. Sekarang aku sudah hapal dengan pemilik seragam-seragam ini dan juga kebiasaan masing-masing anggota klub. Jinki hyung yang paling rapi. Sesempit apa pun waktu yang dia punya, seluruh barangnya tertata rapi di dalam loker. Lokernya juga selalu terkunci rapat. Tidak pernah kulihat barang Jinki hyung berserakan atau bercecer. Dan aku ingat dengan salah satu kebiasaan anggota klub yang ku anggap cukup aneh. Kim Jonghyun. Dia selalu memakai kaus kaki dan sepatu dulu sebelum mengenakan celana. Melihatnya terkadang aku suka tertawa sendiri.
“Aku tidak suka celanaku jadi tidak rapi karena harus membungkuk membetulkan tali sepatu.” Begitu alasan Jonghyun sewaktu aku pertama kali menanyakannya.
“Kau kan bisa menaikkan kakimu sejajar pinggang,” kataku.
Jonghyun menggeleng. “Itu malah lebih tidak rapi lagi. Kerutan di paha akan semakin terlihat.”
Dan argument terakhirnya itu membuatku menghela napas dan kemudian diam. Tersenyum melihatnya yang memakai sepatu hanya dengan boxer.
Dari semua anggota klub, yang paling berantakan adalah Minho. Semua barangnya dilempar ke dalam loker begitu saja. Akibatnya  pintu lokernya tidak pernah bisa ditutup. Baru saat latihan kemarin aku bisa menutup pintunya setelah barang-barang di dalamnya kuatur dengan rapi.
Aku pernah melihat isi loker Minho. Waktu itu dia meminta bantuan mencarikan pasangan kaus kakinya. Sangat sulit ditemukan karena isinya bertumpuk-tumpuk. Semuanya bercampur aduk menjadi satu. Bola karet, sepasang sepatu cadangan, jaket, topi, buku-buku, botol tempat minum yang entah sudah berapa lama tidak dicuci, handuk besar, dan entah apa lagi.
“Isi lokermu sebenarnya tidak ada yang istimewa. Yang istimewa adalah cara menyimpan barang-barang di dalamnya. Semuanya campur aduk menjadi satu.” Aku mengomel sambil membuka tumpukan kausnya.
“Itu namanya kreatif, tahu?!” sahutnya. “Oh! Itu dia!” Minho berteriak senang sambil menarik tanganku dan mengangkatnya ke udara. Lalu dia bersorak sorai riang.
Aku ikut tersenyum senang. Aku seperti melihat anak kecil yang menemukan kembali mainannya setelah sekian lama hilang. Wajah Minho saat itu benar-benar menggemaskan.
Kulirik loker Minho. Perasaanku menjadi hangat setiap kali melihatnya. Ya, namja si pemilik loker telah kusimpan di dalam hatiku. Aku sengaja menyimpannya, karena aku tidak berani mengatakan suka padanya. Aku bisa membayangkan, Minho pasti akan mengejekku seperti biasa. Aku tidak berani mengatakannya, karena aku…aku tidak tahu perasaan Minho padaku. Kalau saja aku yeoja…mungkin ini akan lebih mudah….
Kulihat Tiffanny duduk di bawah pohon. Sesekali dia bertepuk tangan. Berkali-kali anak-anak memalingkan wajah, menatapnya sebelum menggiring bola. Akibatnya, permainan berjalan lambat. Belum lagi mereka yang sengaja mencari perhatian dengan berteriak atau meloncat supaya Tiffanny menoleh.
“Sssh… Taemin!”
“Hah?!” Aku terlonjak kaget.
Minho! Wajahnya menyembul dari balik pintu.
“Kalau mau masuk, masuk saja. Jangan cuma kepalanya begitu! Buat kaget, tahu!” gerutuku.
Minho memasuki ruangan sambil celingukan. “Semua sudah ke lapangan?”
Aku mengangguk, “Kenapa kau terlambat? Tidak biasanya?”
“Terlambat? Kan lima menit lagi baru turun ke lapangan. Bukannya mereka yang terlalu cepat?”
Kulihat jam dinding. Benar. Seharusnya ini belum saatnya berlatih. Aku teringat kejadian tadi. Jinki hyung yang salah tingkah dan memberi isyarat agar semua anak ke lapangan.
“Pasti karena Jinki hyung.” Kataku sambil tertawa.
“Hyungku? Ada apa dengannya?”
Aku tidak menjawab, hanya memberi isyarat agar Minho melihat keluar jendela. Di bawah pohon tampak Tiffanny duduk sambil tertawa-tawa.
“Coba lihat.”
“Tiffanny? Dia menonton?”
“Tadi kan dia sudah bilang mau melihat permainanmu. Apa kau lupa? Atau…pura-pura lupa?!”
Minho diam, “Oh, begitu. Wah, aku pasti jadi semangat diperhatikan yeoja cantik seperti Tiffanny. Aku senang melihat tawanya.”
Deg!
“Lihat gayanya, Taemin. Dia memang yeoja idaman yah. Lembut dan keibuan.” Kata Minho sambil membelakangiku, memandang Tiffanny dari jendela.
Darahku seperti berhenti mengalir ke jantungku. Mataku nanar melihat Minho yang sedang tersenyum bersandar di jendela memandang ke arah lapangan.
“Ya kan, Taemin?”
Tiba-tiba Minho menoleh.
Aku terkejut. A-aku tidak ingin dia melihat mataku yang mulai berair dan mengetahui bahwa aku sedang gelisah.
“Kau kenapa? Dari tadi diam saja.”
Aku cepat-cepat menggeleng tidak ingin dia tahu isi hatiku yang benar-benar terasa sesak, “Tidak ada apa-apa.”
“Kau lelah ya membereskan ruangan ini setiap kali kita berlatih…”
“Anii. Aku…aku suka, kok.”
Minho mengerutkan alisnya dan memandangku penuh selidik, dan aku tersenyum “Ya, sudah. Aku ke lapangan dulu. Aku juga ingin Tiffanny melihat permainanku. Tendanganku oke, kan?” katanya sambil menalikan sepatu. “Eh ya, Taemin. Soal kerikil jangan kau beritahu pada yang lain, ya.”
Aku tidak megerti maksudnya tetapi aku hanya mengangguk.
Kemudian Minho keluar. Sesampainya di pintu dia berbalik. “Taemin, gomawo. Lokerku sudah kau rapikan.”
Belum sempat aku menjawab, dia sudah melesat keluar.
Melihat Minho datang, Tiffanny langsung berdiri menyambut dengan senyum lebar menghiasi wajah cantiknya. Di sepanjang permainan babak pertama, dia terus memperhatikan Minho. Ketika namja itu membuat gol, aku tidak bisa menyembunyikan bahwa aku turut gembira. Aku berjingkrak sambil mengacungkan dua jempol.
“Kau hebat Minho!” teriakku yang melihat dari balik jendela. Jelas, dia tidak akan mendengarnya.
Tapi tiba-tiba Minho menoleh ke arahku lalu melambai sambil tersenyum riang. Kubalas dengan melambaikan kaus yang tengah aku pegang, entah kaus milik siapa. (Aku sedang memunguti kaus-kaus yang berserakan tadi).
Tetapi…ternyata aku salah. Bukan aku yang dituju oleh Minho. Di hadapanku berdiri Tiffanny yang sedang melambaikan tangan dengan penuh semangat. Minho tertawa lalu kembali berkonsentrasi ke lapangan.
Aku lebih suka mengamati permainan mereka dari jendela ini, karena dari sini aku bisa leluasa memandang Minho tanpa takut ketahuan orang lain. Tetapi tadi aku sudah terlanjur berjanji dengan Tiffanny untuk menonton bersamanya di lapangan. Akhirnya setelah melipat kaus terakhir, aku pun bergegas ke sana.
“Minhoooooooooo!!”
“Wah, semangat sekali…” kataku pada Tiffanny ketika aku sampai di lapangan dan berdiri di sebelahnya.
“Kamu benar Taemin. Permainan Minho sanga bagus! Di Perancis, anak yang menjadi bintang lapangan pasti punya banyak penggemar dan menjadi populer. Aku pasti punya banyak saiangan yah? Benar kan, Taemin?”
Tiffanny…menyukai Minho…?
“Taemin?”
“Eh?! Aku…aku tidak tahu.” Jawabku.
“Benarkah? Kau tidak tahu? Bukankah kau dekat dengan Minho, eum?”
“Ya…aku memang dekat tapi…kenapa tidak kau tanyakan sendiri saja?” karena aku betul-betul tidak tahu. Aku tidak terlalu peduli dengan hal-hal seperti itu, tapi begitu Tiffanny menanyakannya, aku jadi cukup penasaran. Apa benar Minho banyak yang suka??
“Oh, begitu…baiklah, nanti aku akan bertanya.” Jawabnya riang.
Dan Tiffanny benar-benar menanyakannya pada Minho. Ini terjadi ketika kami bersama-sama keluar dari lapangan.
“Minho punya banyak penggemar, ya?” Tanya Tiffanny tiba-tiba.
Mungkin karena terbiasa bergaul cara barat yang terbuka, Tiffanny mudah saja menanyakan hal itu. Kulihat Minho agak terkejut, tapi dia hanya tertawa. “Penggemar? Maksudmu?”
“Maksudku…penggemar yang menyatakan rasa suka padamu.” Jawab Tiffanny blak-blakan.
“Hmm…kalau yang seperti itu, sepertinya belum ada.”
Issh, memangnya dia itu tampan? Coba sana berkaca dan lihat mata lebarmu itu! Mata seperti kodok, wajah seperti alien…. Memangnya kau begitu tampan sampai harus menunggu orang lain mengatakan suka padamu, eoh?!  Aku benar-benar kesal mendengar kepedean-nya, tapi…salah satu bagian diriku menyadarkan bahwa…berarti kesempatan untukku masih terbuka lebar(?)
“Benar belum ada?” desak Tiffanny.
Tiba-tiba dadaku sesak dan jantungku berdetak sangat kencang memukul dadaku. Apa Tiffanny akan menyatakan perasaannya pada Minho? Oh Lord, kalau itu sampai terjadi, maka patung indah yang kubangun dari kerikil-kerikil yang setiap pagi ditendang Minho ke punggungku akan berantakan. Semua yang selama ini kunikmati sendiri akan berhenti mendadak.
Minho menegakkan kepal, “Belum… Tapi entah kalau ada penggemar gelap.”
Deg!
Mu-mungkinkah…dia tahu bahwa selama ini aku sering memperhatikannya dan selalu merindukannya kembali duduk di sampingku? Merindukannya setiap kami berpisah di depan apartemennya dan aku dengan sangat tidak sabar menanti hari berganti esok untuk kembali bertemu dengannya? Dan…alasanku menjadi manajer klub sepak bola juga adalah karena dirinya.
Aku baru sadar, bahwa aku benar-benar tidak ingin berpisah dengan Minho. Aku ingin selalu berada di dekatnya
“Wah, ketemu lagi. Jangan-jangan kau suka padaku, ya?” sindir Minho sewaktu kami berjalan pulang bersama-sama.
“Enak saja. Aku mau menjadi manajer di sini karena…”
“Karena ada aku, kan?” sela Jinki hyung.
Aku tertawa.
“Benar begitu?” tanya Minho cepat.
“Hmm…benar juga. Kudengar permainan Jinki hyung memang bagus. Lagi pula kalau sudah kenal baik dengan kaptennya, tugas seorang manajer biasanya menjadi lebih menyenangkan.” Aku beralasan.
Jinki hyung memandangku dengan serius lalu mengangguk sambil tersenyum.
Maka, aku resmi menjadi manajer klub bersama Kibum. Tapi belum sampai sebulan, Kibum mengundurkan diri sebagai manajer. Sambil mencari manajer pengganti, sementara ini aku harus bekerja sendiri. Mencari manajer yang mau mengerti kebiasaan anak-anak pemain sepak bola itu tidak mudah, kata Jinki hyung. Makanya mereka berhati-hati memilih.
“Penggemar gelap?” Tanya Tiffanny. Pertanyaannya membuyarkan lamunanku. “Aku tidak suka tipe yang seperti itu. Kedengarannya pengecut, ya.”
Minho hanya diam tidak menjawab, sedangkan aku hanya bisa member komentar, “Hmmm.”
“Minho suka tipe yang seperti apa?” Tanya Tiffanny lagi.
Aku sengaja melangkah di belakang mereka. Aku tidak siap mendengar jawaban Minho. Tidak. Sebenarnya aku ingin mendengar…tetapi aku terlalu takut untuk mengetahuinya.
Minho memindahkan tas besarnya ke pundak kiri, “Hmm aku suka yang…cantik, pasti.”
Ugh! Leherku rasanya seperti dicekik dengan keras. Bukankah tadi di ruang klub, Minho mengatakan kalau Tiffanny cantik?
“Lalu…keibuan.”
DUAR! Kepalaku seakan meledak dan aku seperti ingin mati saat itu juga. Tadi Minho juga mengatakan kalau dia suka yang keibuan! Eottokhe?!!! Apa aku akan menjadi saksi mereka menjadi sepasang kekasih?
Tiba-tiba pandanganku kabur. Setitik air memenuhi mataku dan yang paling menyesakkan, aku merasa sendirian di antara mereka, di luar pembicaraan mereka.
“Kalau begitu…” sambung Tiffanny, “Aku masih mempunyai kesempatan, kan?”
Minho tertawa, “Kesempatan selalu terbuka untuk yang berani mengungkapkan.”
Mereka tertawa bersama, dan aku tidak tahan mendengarnya.
“Ya, anak ayam! Kau kenapa? Dari tadi kau diam saja, biasanya kau kan berisik.” Tegur Minho.
Aku tersentak, pura-pura membungkuk membetulkan tali sepatu. “Tidak apa-apa. Ini… tali sepatuku lepas.”
“Taemin pasti lelah menjadi manajer. Bagaimana kalau aku ikut membantu? Yah, sekalian bisa melihat Minho berlatih.” Kata Tiffanny.
Sekarang aku seperti sedang ditenggelamkan ke dalam sungai yang dingin. Apalagi ketika Minho mendukung, “Boleh. Nanti kita usulkan ke Jinki hyung, iya kan, Taemin?”
“Eh…ya. Kita bicarakan besok saja, ya.”
Kami sudah sampai di pertigaan jalan. Harusnya aku dan Minho mengambil jalan ke kiri dan Tiffanny ke kana, tetapi tidak kali ini.
“Aku ingin tahu apartemen Minho. Boleh aku lewat jalan ini? Di dekat sana ada perempatan jalan menuju rumahku.” Kata Tiffanny riang.
“Rumahmu kan jauh. Nanti akan semakin jauh kalau harus memutar jalan, kan?” kataku, berharap Tiffanny membatalkan niatnya.
“Sudahlah, ayo! Biar tidak kemalaman.” Ajak Minho.
“Kalau kemalaman aku bisa minta diantar Minho, kan?” Tanya Tiffanny manja.
“Boleh.”
Sepertinya aku benar-benar kalah. Seandainya ada time out, agar aku bisa mengatur strategi untuk menghadapi saat menegangkan seperti ini. Aku tidak bisa mambayangkan bagaimana harus berjalan bersama mereka. Dan aku sadar, sebelum aku melangkah…aku sudah dihadapkan oleh tembok tinggi yang tidak mungkin bisa kupanjat. Apa aku harus menyerah?
“Oh ya, Minho, Tiffanny. Aku baru ingat tadi umma memintaku ke supermarket dulu. Ada yang harus dibeli. Kita pisah di sini, ya. Sampai besok.”
Saat aku melangkah pergi, tanganku digenggam oleh Minho yang mencegahku. “Tadi pagi kau tidak bilang mau ke supermarket?”
Aku melirik tanganku yang digenggamnya, hangat….
“Mian, aku baru ingat.”
“Wah, sampai rencana ke supermarket pun Minho tahu. Kalian memang sahabat dekat, ya…tapi, Minho masih membuka kesempatan untukku, kan? Kalian…tidak berpacaran, kan?”
Minho dan aku jadi salah tingkah. Buru-buru kulepaskan tangan Minho dari tanganku.
Aku ingin tangan hangatnya hanya menggenggam tanganku seorang….
            “Hahaha Tiffanny kau bicara apa? Tidak, kok! Ya, sudah ya! Nanti kemalaman. Sampai besok. Annyeong~!” kataku setengah berlari. Ya, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kalau aku terus berada di sana, aku takut mereka melihat air mataku yang kini tanpa seijinku mengalir di pipiku.
“Taemin!”
Tanpa mempedulikan panggilan Minho, aku terus berlari menjauh.
Aku tidak pergi ke supermarket karena itu memang hanya alasanku saja. Aku masuk ke sebuah taman. Dulu sewaktu aku masih kecil, Umma sering mengajakku ke taman ini. Sore yang hangat adalah saat yang paling menyenangkan untuk bermain ayunan. Aku sangat suka bermain ayunan, dan ayunan favoritku ada di ujung, di dekat semak pembatas. Di ayunan inilah aku tertunduk lesu.
Tiffanny benar. Aku memang pengecut yang menyukai Minho secara diam-diam. Seandainya aku berani mengatakan suka sejak dulu, pasti tidak akan begini jadinya. Dan sekarang, ketika Minho sedang bersama Tiffanny, rasa sesal yang amat sangat mendera hatiku. Aku yang selama ini selalu dekat dengan Minho malah menjadi terasing. Jika berjalan bertiga, rasanya aku seperti makhluk asing yang tidak sejalan dengan mereka.
Baru kali ini Minho dan aku pulang terpisah dan Minho meninggalkanku. (Walau sebenarnya aku yang pergi meninggalkannya). Hati kecilku menyuruhku untuk mengungkapkan perasaanku, tetapi mengingat wajah bahagia Tiffanny ketika berada di dekat Minho, aku tidak sanggup menghancurkan kebahagiaannya. Aku hanya akan menjadi kerikil yang menghalangi mereka.
.
.
.

Keesokan hari, sepulang sekolah adalah giliran aku dan Minho untuk piket kelas. Setelah kejadian kemarin, aku dan Minho menjadi sedikit canggung. Ketika berangkat sekolah pun kami tidak terlalu banyak bicara, padahal biasanya kami saling mengejek atau berdebat selama perjalanan menuju sekolah.
Dan seperti saat ini, aku dan Minho mendapat bagian membuang sampah dan membuangnya ke pembuangan akhir di halaman belakang.
Aku memegang sisi sebelah kanan dan Minho sisi satunya. Kami berjalan dengan diam. Rasanya benar-benar tidak nyaman, sampai…
“Minhooooo!” terdengar suara Tiffanny memanggil.
Kami menoleh dan sepakat berhenti.
“Apa masih lama?” Tanya Tiffanny.
“Ya, hari ini aku piket. Mian jadi menunggu. Setelah membuang ini selesai, kok.” Jawab Minho dan Tiffany tersenyum mengangguk.
“Kalian ada janji?” tanyaku.
Apa kalian akan berkencan?
“Tadi aku minta Minho mengantarku ke DDM.” Jawab Tiffanny.
Jadi mereka benar-benar berkencan…apa kemarin Tiffanny sudah menyatakan perasaannya? Apa mereka telah berpacaran?
“Kenapa tidak bilang padaku?” aku terkejut dengan nada bicaraku sendiri, sedikit terdengar menuntut.
Minho baru akan menjawab tapi Tiffanny menyela, “Waah, jadi kalian harus saling memberitahu dan meminta ijin ya? Waah…aku iri…”
“Bukan begitu Tiffanny. Kalau Minho bilang padaku, Minho bisa melepas piketnya untuk hari ini. Agar kau tidak menunggu lama.”
Minho mengernyitkan dahinya hendak protes. “Bukannya biasanya kau selalu melarang orang yang membolos piket?”
“Aku bisa menggantikan tugasmu. Dan minggu depan kau menggantikan tugasku, adil kan?” ucapku beralasan.
“Memang minggu depan kau mau kencan dengan siapa?” ledek Minho.
Deg!
“Waah… Taemin punya pacar, kah? Taemin kan manis…pasti pacarmu namja tampan, kan?! Kalau pacarmu yeoja, pasti mereka malu karena kalah saing darimu. Hahaha. Oya, nanti kita bisa kencan ganda, iya kan, Minho?!”
“Bu-bukan begitu…aku belum punya pacar. Tidak ada kencan, tadi aku cuma bercanda.”
Tapi seolah tak mendengar, Tiffanny terus saja mengoceh tentang ‘pacarku’…
“Hmm…tipe idaman Taemin pasti yang kalem tapi tegas, ya? Soalnya kalau sama-sama ribut seperti Minho, tidak cocok. Tidak seimbang.”
Deg!
Aku terdiam, begitu juga Minho.
Dan setelah membuang sampah, mereka pun pamit duluan. Melihat mereka pergi bersama, aku semakin sadar. Bahwa tempatku di antara mereka, sama seperti sebuah bayangan. Tidak terlihat, dan terlupakan.
Aku berjalan menuju taman kemarin, dan duduk di ayunan favoritku. Hatiku benar-benar sakit. Tapi Tiffanny mengatakan aku manis..dan pacarku nanti pastinya seorang namja…kalau itu benar, aku ingin dia adalah Minho.

AUTHOR POV
Taemin menangis semakin terisak. Hari sudah malam dan bulan sedikit tertutup awan. Tetesan air hujan mulai turun membasahi tanah. Taemin berdiri namun tangannya masih menggenggam besi ayunan.
Ada dua pilihan yang diajukan oleh hati kecil Taemin, mengatakan suka dengan kemungkinan ditolak dan hubungan menjadi tidak enak, atau tetap diam walau membuat hati sakit?
Ia memejamkan matanya dan menghela napas untuk memilih. Ya, Taemin memutuskan untuk memilih pilihan kedua. Meyakinkan dalam hati bahwa ia butuh time out  untuk membenahi isi hatinya dan menenangkan perasaannya.
Setelah merasa sedikit lega, Taemin pun melangkah pulang dengan ditemani hujan. Begitu melewati Apartemen Minho, bangunan itu terlihat gelap. Taemin yakin Minho belum pulang, dan kemungkinan besar masih bersama dengan Tiffanny. Lagi Taemin merasakan nyeri di dadanya. Tetapi ia sudah menetapkan hati dengan pilihannya.
Memandang sekali lagi ke arah jendela kamar Minho, dan tersenyum sendu. Hujan semakin deras, dan ditengah jalan yang sepi, Taemin berjalan sendirian…….
                                                                                  .
                                                                                  .
                                                                                  .
                                                                                  .
                                                                                  .